Makan di Luar Rumah = Boros. Yakin?


“ Besok kalau milih istri...yang hobinya masak, jadi nggak usah jajan di luar.  Jajan itu artinya pemborosan. Termasuk kalau puasa seperti ini, lebih baik menu untuk buka nya masak saja sendiri "

Kira-kira, ada nggak ya orang tua yang nyimpen nasehat seperti itu untuk anak lelakinya kelak?  Kalau pun ada dalam dunia nyata,  semoga saya nggak termasuk di dalamnya. 😊😊 

Dan tenang saja, karena dialog di atas hanya fiktif belaka..ha..ha

Saya termasuk penganut paham bahwa makan di luar, entah itu di bulan Ramadhan atau bukan,  bukan sesuatu yang percuma. Iya, bisa jadi nominal yang dikeluarkan memang akan menjadi lebih besar, tapi pasti ada manfaatnya.  Terutama untuk kesehatan psikologis. 

Toh kita milih makan di luarnya bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.  Tidak setiap hari. Bisa cari menu-menu merakyat. 


Bisa juga sesekali makan di tempat-tempat yang  gaul tapi konsekuensinya ongkosnya agak gede. 
Dibuat fleksibel saja.

Paling tidak, minimal ada 3 hal positif yang bisa dirasakan, antara lain:

Sebagai sarana Refreshing. Sesuatu yang sama setiap hari, hal-hal yang terus berulang di tempat yang sama, yakin itu potensial bagi timbulnya rasa jenuh. Maka langkah antisipasi adalah dengan mencari sesuatu yang berbeda. Salah satu caranya, bisa jadi menikmati menu makanan di luar. Suasana yang beda, menu yang tidak sama, rasa yang bisa jadi lebih variatif diharapkan mampu berdampak positif bagi mood seseorang.

Menambah relasi. Bisa ya? Sangat mungkin. Karena di luar rumah, bisa jadi kita akan bertemu, terlibat obrolan dengan orang lain.  Bisa jadi si pemilik resto atau mungkin saja ketemu teman lama.

Mencoba menu baru. Hal-hal baru, biasanya menarik.  Nggak mungkin juga kan, kita makan yang itu-itu saja setiap hari. Maka kesempatan  untuk bisa makan di luar, bisa dimanfaatkan untuk menjajal menu-menu baru. Menu yang kita nggak bisa masak, atau kita bakal kesulitan seandainya memasak di dapur sendiri. Misalnya saja, menu-menu makanan negara tetangga, masakan Jepang misalnya.

Lha kan boros?? Bukannya harga makanan di gerai-gerai makanan bercita rasa  asing mahal. Yaa..kan nggak tiap hari.  

*Tiap hari juga boleh, kalau kuat isi dompetnya.  Wkk..wkk

Tapi kalau saya  nggak. Kalau sekedar buat selingan, masih bisa. Tapi kalau tiap hari, jebol!

Menu Ramadhan  yang Menggoda Selera ala Hokben

Ngobrolin menu Jepang, otak saya otomatis langsung teringat restoran dengan logo dua  bocah, yakni Taro (anak laki-laki) dan Hanako; anak perempuan berbaju merah.  Di Indonesia,  bisa dikatakan Hokbenlah   --yang dulunya bernama Hoka-Hoka Bento-yang memiliki jaringan yang paling besar untuk kategori restoran makanan Jepang cepat saji. Hingga kini, Hokben memiliki 150 gerai yang tersebar di Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera.


Untuk Jogja sendiri, setau saya ada 3 gerai Hokben, dengan lokasi yang lumayan menyebar, yakni Hokben Ambarukmo Plaza, Hokben Malioboro Mall, dan Hokben Jalan Kaliurang.  Tinggal milih, lokasi yang paling gampang dijangkau.

Dan info terbarunya adalah, Ramadan tahun ini, Hokben juga menghadirkan kembali Bento Ramadan. Bento Ramadhan terdiri dari simple set Teriyaki dan paket ABCD yang sudah dilengkapi dengan minuman Teh kotak Sosro yang menjadi sajian lengkap untuk berbuka. Bento Ramadan sendiri, tersedia dalam 6 varian yang  terdiri dari bento ramadan 1-2-A-B-C-D, dengan harga 48.000-61.500 rupiah.








Bento Ramadan ini bisa dipesan / dinikmati di seluruh gerai Hokben.  Bahkan khusus makan di tempat  dan take away, Bento Ramadam ABCD akan mendapatkan gratis Black Thunder coklat, sementara  gratis coklat cake untuk pembelian Bento Ramadan 1 dan 2


Jadi, buat teman-teman yang lagi pengen menikmati suasana berbuka puasa dengan suasana yang agak-agak berbeda, HokBen bisa kok  jadi pilihan.  Semoga puasanya lancar yaa!







You Might Also Like

2 comments

  1. Makan di luar itu udah jadi kebiasaanku sak keluarga. Biasanya tanggal muda, ngajak anak-anak makan siang di luar. Sekalian jadi pengingat biar pas ntar anak-anak dah males diajak jalan sama ortunya, mereka ada kenangan manis sama ortu.

    ReplyDelete
  2. Setuju... Makan di luar itu mengenyangkan dan menyehatkan jiwa...😀

    ReplyDelete