Satu dari 7 kilometer Menuju Puncak Telomoyo


"Mbak...yang bawah itu pohon wortel". Dari sebuah warung kecil di tepi jalan, seorang Bapak ternyata mengamati saya yang tengah mengambil foto beberapa tanaman pada sebuah ladang.

Tumpangsari; ada beberapa jenis tanaman dalam satu petak. Tanaman kapri yang mulai panen, buncis yang sudah mulai berbunga, dan juga tanaman wortel yang bergerumbul di bawah dengan tinggi tanaman masih sekitar 10 centimeter. Semuanya, aneka tanaman yang buahnya sering saya jumpai di pasar atau tukang sayur yang setiap hari lewat di depan rumah, tanpa pernah membayangkan seperti apa rupa tanamannya.

Ini tanaman kentang

Tanaman Kapri

Tanaman buncis


Selesai mengambil foto, saya ikut duduk di warung yang terletak tak jauh  dari ladang sayuran. Mengamati suasana sekitar, menikmati benar udara segar yang bisa saya rasakan.

Sebenarnya bukan kebetulan juga saya berada di ladang sayuran masyarakat dusun Dalangan, Pandean, Ngablak, Magelang ini. Semuanya berawal dari keinginan untuk menikmati panorama alam kota Magelang, Semarang, dan Salatiga dari puncak Telomoyo. 

Diantara sekian gunung di daerah Magelang, Gunung Telomoyo di kenal sebagai yang paling istimewa. Berada di ketinggian 1894 mdpl, inilah satu-satunya gunung yang sudah dilengkapi dengan jalan beraspal sampai ke puncak, hingga bisa dinikmati dengan menggunakan kendaraan roda 2, bahkan mobil. Akses jalan ini segaja dibuat, karena di puncak gunung terdapat banyak antena BTS, dan juga landasan olahraga paralayang.

Namun ternyata kenyataan berkata lain. 

"Nggak bisa naik mbak...kalo pake mobil. Jalannya rusak parah..." Itulah kalimat  yang diucapkan penjaga palang pintu pos Gunung Telomoyo, Magelang sambil memberi saya satu lembar tiket parkir, berangka 5000 rupiah.
"Terus?"
"Jalan kaki bisa"
"Berapa lama sampai atas...?"
"Tiga jam-an paling kalau jalan"
"Ya udah, nitip parkir dulu aja ya Mas" 

Minimal sudah merasakan parkirannya.

Ya, mau bagaimana lagi? Mungkin karena saya "salah" mobil juga. City car, diajak naik gunung. Untuk tipe-tipe mobil berground-clearence tinggi atau mobil yang biasa dipake bertualang, konon bisa naik, tapi nggak bisa berpapasan kalau sudah sampai atas. Kata penduduk sekitar, menuju Puncak Telomoyo paling ideal, menggunakan motor non-matic di waktu pagi atau sore, dengan jarak sekitar 7 km, dan waktu tempuh 45 menit-1 jam.

Tiga jam jalan kaki, dengan jalanan menanjak. Itu mustahil bagi anak-anak, karena memang nyatanya saya mbawa dua anak. Akhirnya, kompromi sama Pak Suami, kami akan jalan kaki sekuatnya badan, bergantian. Satu jalan naik, satu menemani anak-anak dibawah.


Area parkiran

Areal bawah/parkiran yang dimiliki kawasan pendakian ini bisa dibilang sangat lapang. Ada banyak gasebo kayu, dan juga toilet. Sementara anak-anak berdua mainan ponsel di gasebo dan Pak Suami naik menyusur jalan aspal, sedapatnya dan sekuatnya badan, saya  memilih melihat-lihat kondisi sekitar, termasuk ngobrol dengan para petani yang saya temui. Penduduk di sini ramah-ramah sekali.

"Itu apa Pak...?" Tanya saya sambil menunjuk bangunan yang terletak di tengah areal ladang ke salah satu warga --yang bahkan sampai saya pamitan, saya nggak tahu siapa namanya.

"Itu pemakaman.. dalang dan semua grupnya dimakamkan di situ. Rame kok itu...malah orang jauh-jauh yang datang ziarah ke sini " Kata bapak itu sambil sesekali menghisap rokoknya. 

Kening saya berkerut. Ada cerita menarik rupanya yang tersimpan di tengah masyarakat Dalangan ini.

Makam, Pementasan Wayang, dan Asal-Usul Dusun Dalangan

Kompleks makam yang banyak diziarahi, dipercaya sebagai asal usul kampung Dalangan, Pandean, Ngablak, Magelang

"Makam itu kan berkaitan dengan larangan mengadakan pementasan wayang di Dusun ini mba.." Tanpa diminta, Bapak-bapak.yang saya taksir berusia 60 tahunan itu melanjutkan ceritanya.

Ternyata, ada sebuah cerita yang hidup mengakar di masyarakat Dalangan ini selama ratusan tahun, tentang larangan menggelar pementasan  wayang.

Semuanya tentu bukan tanpa sebab. Konon, pernah suatu hari kampung ini menggelar pementasan wayang, kemudian muncul angin ribut yang merobohkan panggung pementasan. Dalang, sinden, dan semua penabuh gamelan meninggal, dan kemudian dimakamkan dalam satu lokasi. Karena tragedi tersebut, dusun yang awalnya bernama Sepayung, berganti nama menjadi Dalangan. Makam pun, kini menjadi tujuan banyak peziarah.

"Make motor saya ini lho mbak, kalau mau naik ke atas sana.." Kata bapak tadi, mengingatkan saya pada tujuan awal ke sini. 

" Nggak Pak, terimakasih. Nunggu suami saya aja turun, nanti saya gantian naik. Paling sebentar saya juga udah capek"

Menaiki gunung dengan menggunakan motor pinjaman memang tawaran menarik. Tapi lagi nggak punya nyali. Saya kan dipasrahi njagain Raka sama Alya yang lagi pada main balapan mobil di gasebo. Lagian, sudah kagok juga kalau saya mesti mengemudikan motor manual dengan kondisi jalan yang lumayan berat.

Sekitar 1 jam menunggu, akhirnya Pak Suami turun untuk ganti njagain anak-anak sambil memesan teh, dan semangkok mie instant. Giliran saya jalan naik, sendiri. 

Beberapa kali saya berpapasan dengan sepeda motor yang barusan naik atau turun. Saya perhatikan, memang kebanyakan motor tipe motor cowok/bukan bebek. Dan di bawahpun jalan memang lumayan rusak.

Medan jalan menuju puncak Telomoyo. Ini masih bagian bawah, bisa jadi makin ke atas makin parah

Sekitar 30 menitan berjalan, mendung terlihat menggantung. Saya jalan tanpa pelengkap apapun, payung apalagi mantol. Cuma modal sebotol air mineral, biskuit, ponsel sama dompet. Akhirnya saya milih turun. Paling saya jalan 1 km saja, masih jauuuuuh dari puncak. Tapi lumayan, bisa melihat petani bercocok tanam, bertegur sapa dengan mereka yang luar biasa ramah. Mengisi paru-paru dengan udara yang bersih, memanjakan mata dengan pemandangan alam yang mempesona. Yess, saya suka! Meski paling cuma berjalan 1 kilo dari total 7 kilometer menuju puncak Telomoyo.


Di jalan saya ketemu bu Sumiyati dan keluarga yang sedang menanam kentang

Gunung Andong dari kejauhan

Kapan lagi balik ke sini, semoga kondisi jalan sudah membaik.

You Might Also Like

13 comments

  1. Wah sampai sekarang belum juga diperbaiki jalan ke puncak gunungnya ya, kak ...
    Kira-kira hampir setahun lalu aku batal naik ke puncak gunung Telomoyo ini karena penjaga loketnya bilang naik motor bisa tapi kudu hati2 karena jalannya banyak rusak.

    Jadinya aku batal naik dan cuma duduk di warung desa dekat loket.
    Jalanan desanya ditata apik ya ..., buat berfoto juga keren :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga segera ada perbaikan yaa.. klo sekilas aku denger cerita penduduk kmrn..itu desanya binaan pegadaian... Moga aja akses jalannya segera diperbaikk

      Delete
    2. Iya, kak.
      Semoga post ini ikut dibaca oleh pemerintah setempat dan segera direalisasikan pembangunan jalannya.

      Sayang banget kalau potensi alamnya sekeren itu tapi sarana rusak didiamkan lama banget pengerjaannya.

      Delete
  2. Belum pernah ke Telomoyo. Tapi sempet baca beberapa tulisan, kalau jalanan menuju puncak memang rusak -dan itu sudah lama sepertinya. Tak kira karena lumayan booming, bakal ada perbaikan. Oh ternyata, belum ya? Masih rusak juga.

    Wah, anak-anak di ajak jalan naik, jane mbak. Biar bisa jalan bareng-bareng berempat. Kayak e lebih asyik. Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan ya diperbaiki..? Jarang soalnya nemu gunung, yang akses jalannya lmyn gampang sampe kepuncak ya..

      Asyik sih asyik...tp takut e ngeluh capek tengah jalan..trus mogok minta gendong. Haduh. Boyok e nggak kuat.. :-)

      Delete
  3. 7 km? �� Ga kebayang kalo bawa bocil jalan 7 km. Semplok kabeh awake ������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anaknya minta gedong. duh boyokke... tapi seru.

      Delete
  4. Na...ya itu. Iso ngampet nangis klo anaknya minta gendong..����

    ReplyDelete
  5. Belum pernah ke Telomoyo... Aq juga suka foto2 tanaman gitu, seru, adem, tapi buat koleksi sendiri aja..

    ReplyDelete
  6. tiap kali jalan ke pedesaan begini, yang masih hijau, aku seneeeeng banget. trakhir ke Bumiayu. airnya masih dingin, jernih, udaranya juga sejuk banget... ini juga bagus yaaa desanya.. berharap juga jalanannya nanti bisa diperbaikin supaya memudahkan akses masyarakatnya juga :)

    ReplyDelete
  7. Asik nih, kalau udah d.aspal gak capek jalan kaki..he
    Belum pernah kesana, tapi namanya gak asing di telinga. Semoga segera ada perbaikan jalannya, biar lebih mudah.

    ReplyDelete
  8. Saya juga Mbak, nggak tahu tanaman sayuran tuh seperti apa, tahunya udah siap beli di pasar. Kalau lihat pohonnya saja pasti nggak tahu kalau itu pohon kentang atau kacang panjang, hehe. Wah, jadi penasaran sama Gunung Telomoyo, sayang jalannya rusak ya Mbak, jadi nggak bisa dijangkau pakai mobil sampai puncak :).

    ReplyDelete
  9. Lokasinya menantang betul untuk didatangi

    ReplyDelete