Mengagumi Candi Plaosan, Simbol Bersatunya Dua Wangsa Beda Agama

6 comments

Setiap tempat menyimpan cerita dan kisahnya masing-masing, dan kita bisa mengeksplorenya.  Itu yang paling saya suka saat melakukan perjalanan ke tempat bersejarah, termasuk mengunjungi obyek  wisata candi.  Sempat ke Candi Ngawen  beberapa bulan yang lalu, tempo hari saya,  Pak Suami, dan anak-anak dolan ke Candi Plaosan. 

Candi plaosan


Letak Candi Plaosan berada di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten  Jawa Tengah atau wilayah paling barat dari Kabupaten Klaten dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sleman, Yogyakarta.  

Tak sulit untuk menjangkau tempat ini. Di samping fasilitas jalan yang cukup lebar dan teraspal halus, terdapat juga papan petunjuk jalan yang mempermudah (calon) pengunjung untuk menemukan lokasi candi. Cara paling mudah –dan dengan cara itu pula kami menemukan rute --adalah dengan menggunakan aplikasi Google maps.

 

Sejarah  dan Daya Tarik Kompleks Candi Plaosan

Wisata Candi Plaosan
Berfoto dengan latar belakang runtuhan Candi Plaosan Kidul


Candi Plaosan terbagi dalam 2 area, Candi Plaosan Kidul dan Candi Plaosan Lor. Kedua kompleks candi saling berdekatan, hanya terpisahkan jalan pedesaan, dan beberapa rumah warga. 

Kami datang pagi, ketika lapak-lapak penjual souvenir dan oleh-oleh di kawasan Candi Plaosan mulai menata diri, menyambut wisatawan setelah sempat ditutup beberapa bulan karena pandemi Corona. Setelah memarkir kendaraan, saya memang mengajak anak-anak ke kompleks candi yang berada di sisi selatan. Pertimbangannya lebih sepi, lebih bisa jaga jarak dengan pengunjung lain.

Candi Plaosan Kidul

Candi Plaosan Kidul dikelilingi pagar besi, dengan pintu masuk menghadap barat. Di dalam, tampak  beberapa penjaga yang terlihat duduk-duduk, mengobrol. Sementara, tak nampak keberadaan pengunjung lain, hanya kami berempat. 

“Pak..beli tiketnya dimana?”

Ini pertama saya ke Komplek Candi Plaosan, jadi  saya pikir bapak-bapak  penjaga yang sedang duduk mengobrol  juga sekalian menjual tiket.

“Oh..di komplek candi yang utara mba, di sini tidak perlu membeli tiket masuk.” Kata seorang petugas yang kemudian mempersilakan kami untuk melihat candi secara lebih dekat. 

Areal Candi Plaosan Kidul ini sebenarnya cukup luas, cuma sayangnya banyak runtuhan candi yang belum berhasil direstorasi. Tidak tampak pula keberadan candi utama, hanya beberapa  candi perwara yang sudah berhasil direstorasi utuh. 


Perwara candi Plaosan Kidul
Candi perwara yang berhasil direstorasi di komplek Candi Plaosan Kidul, jumlahnya tidak begitu banyak


Candi Plaosan Kidul ditemukan seorang Arkeolog Belanda, Ijerman pada bulan Agustus tahun 1909 berupa 16 candi kecil yang tertimbun dalam tanah dalam keadaan rusak.

Runtuhan Candi Plaosan Kidul
Banyak batuan candi yang belum menemukan wujud yang sebenarnya, dan masih berserak menunggu restorasi 


Sepintas melihat bangunannya, kita akan langsung tahu kalau Candi Plaosan adalah candi dengan arsitektur agama Budha. Terlihat stupa-stupa kecil khas dari candi-candi Budha yang terletak di puncak candi, dan juga keberadaan kalamakara pada relung arca dan pintu masuk candi.

“Panas! Nggak enak di sini” dua bocah saya mengeluh kepanasan.  Iya, wisata candi memang jarang yang ramah anak alias nyaman untuk anak-anak.  Lebih tepatnya, wisata candi adalah wisata edukasi  dan juga wisata minat khusus.

Setelah seharian kemarin terguyur hujan, hari itu langit Jogja memang  terlihat biru-cerah. Meski belum terik, tapi rupanyan cukup menyengat untuk kulit anak-anak, dan sayangnya saya tidak membekali mereka dengan topi atau penutup kepala yang lain. Apesnya lagi, di kompleks Candi Plaosan kidul  ini masih minim pepohonan yang bisa digunakan untuk berteduh. 

Meski belum begitu lama masuk, akhirnya kami keluar, pindah ke Kompleks Candi Plaosan Lor atau Candi Plaosan Utara.  

Berbanding terbalik dengan Candi Plaosan kidul, situasi candi Plaosan utara terlihat jauh lebih ramai, meskipun tidak sampai terjadi antrian panjang di loket pembelian tiket masuk. 

Harga tiket masuk ke Candi Plaosan cukup murah. Kalau tidak salah 10.000 untuk pengunjung dewasa, dan dua ribu rupiah untuk pengunjung anak-anak, dengan jam operasional  setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 petang. Tempo hari, saya hanya membayar Rp. 24.000 untuk kami berempat. 

“Mas-mbak yang baju merah ..wajib menggunakan masker ya... Nanti kalau pas foto boleh maskernya di lepas.” Tegur seorang petugas di loket pembelian tiket kepada dua anak muda, yang salah satunya memang tidak mengenakan masker.  Melihat kostum yang mereka gunakan, sepertinya muda-mudi ini hendak melakukan pre-wedding foto atau sesi pemotretan dan menggunakan kecantikan Candi Plaosan sebagai background foto.

Protokol kesehatan Covid 19 dijalankan cukup ketat di kawasan wisata Candi Plaosan. Setiap pengunjung yang masuk diwajibkan untuk memakai masker, mencuci tangan dan melewati petugas pengukur suhu badan.  Untuk protokol jaga jarak, itu kesadaran masing-masing pengunjung. Tapi mengingat area candi yang luas, rasanya cukup mudah untuk mentaati protokol kesehatan tersebut.

Canti utama plaosan
Penampakan candi utama  Candi Plaosan Lor. Ada dua bangunan dengan bentuk dan ukuran sama, namun dengan relief yang berbeda.

Candi kembar
Candi utama dari Candi Plaosan Lor memiliki enam buah ruangan, tiga ruangan terletak pada bagian bawah, dan tiga ruangan lainnya berada pada tingkat dua. 


Sejarah mencatat, Candi Plaosan diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9M pada masa pemerintahan Rakai Pikatan sebagai bentuk ungkapan cinta/ hadiah untuk sang istri, Pramodhawardhani. Candi Plaosan lor (utara) berukuran lebih besar dengan dua bangunan candi utama, dengan bentuk sama persis dan biasa disebut sebagai candi kembar.

Pernikahan antara Rakai Pikatan-Pramodhawardani merupakan pernikahan beda agama antar dua dinasti besar yang ada di Jawa, dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Rakai Pikatan pemeluk Hindu aliran Syiwa, sementara Pramodhawardani  adalah pemeluk Budha-Mahayana.  Pernikahan dua wangsa beda agama ini disebut sebagai momen bersatunya dia keluarga besar yang sebelumnya berseteru. 

Candi-candi di Plaosan yang diperuntukkan bagi pemeluk agama Budha, dibangun secara gotong royong anatara penganut agama Budha dengan agama Hindu. 

Relief candi utama plaosan
Relief pada candi utama bagian selatan menggambarkan laki-laki

Meski secara bentuk sama, tapi sebenarnya dua candi memiliki perbedaan yang mencolok pada reliefnya. Candi utama bagian utara menggambarkan perempuan, sementara candi utama bagian selatan menggambarkan laki-laki. Konon, relief itu merupakan bentuk kekaguman dan saling setia antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardani.

Tempat berteduh candi plaosan
Di Candi Plaosan Lor, terdapat space untuk berteduh dari sengatan matahari

Banyak hal bisa dilakukan di areal Candi Plaosan. Selain terlihat menawan digunakan sebagai latar belakang pemotretan, mengunjungi Candi Plaosan juga bisa dilakukan untuk tujuan wisata pendidikan, atau minimal menikmati peninggalan sejarah masa lalu.

Posisi candi yang berada di tepi jalan dan diantara hamparan persawahan penduduk dengan udaranya yang relatif segar, menjadikan Candi Plaosan kerap menjadi tujuan para pesepeda untuk nggowes di pagi dan sore hari, ataupun sekedar bersantai menikmati suasana alam yang cukup hening. 

Lokasi Candi Plaosan


Related Posts

6 comments

  1. Pas main ke Jogja, sempat ke Borobudur. Hal yang dari kecil hanya saya lihat di teve dan buku pelajaran Sejarah, akhirnya bisa saya lihat langsung. Memang, main ke Candi tak ramah untuk yang tidak kuat panas. Apalagi waktu itu kondisinya ramai dan berdesak-desakan.

    Baca ini, kayak lagi belajar Sejarah dengan cara yang mengasyikkan. Saya senang dengan cerita katar belakang sejarah. Candi utamanya keren. Asli.

    Ohya, salam kenal kak Sulis 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal balik..makasih ya udah mampir di blog..

      Delete
  2. candine ternyata candi budha ya mba lis, kelihatan dari beberapa ciri khase candhi budha emang

    oh bisa buat prewed juga ternyata, apik sih nek latar belakange candi

    n paling penting buayvkenang kenangan iso foto asal maskere bar dibuka dipake lagi hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. he eh nit, difungsikan tempat ibadah budha jaman dulu... jaman dulu, beda agama pada akur malahan ya..

      Delete
  3. Pas kemarin aku ga sempet datangin candi2 Krn cuacanya ga mendukung mba. Panas trus ujan. Jadi wisata candi aku skip dulu. Sempet liat dr jauh candi2 kecil Prambanan. Anakku udh excited Krn aku sempet ngarang cerita ttg dongeng Prambanan :D.

    Murah ya tiketnya padahal. Akutu sbnrnya penasaran ,gimana ya cara arkeolog itu mencari tau penempatan batu2 yg berserak ini hingga bisa jd candi. Kdg pgn jg belajar ttg begitu :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo candi, kayaknya mba Fani nggak betah mba..panas soalnya..kecuali bawa payung atau topi lebar mba..

      He eh, aku mbayanginnya udah rumit pol. Berserak, kadang susunannya udah kacau...ternyata bisa direkontruksi lagi

      Delete

Post a Comment

Follow by Email