ujur-jujuran saja, kalau ngobrolin tentang liburan dan dolan di Magelang, kebanyakan yang langsung terbayang adalah Candi Borobudur. Padahal sebenarnya, tempat dolan dan juga njajan di Magelang itu lumayan banyak. Tak hanya kawasan candinya saja, Magelang rupanya juga menawarkan daya tarik melalui warung-warung lokal, dan sudut-sudut lainnya di Magelang yang selama ini luput dari itinerary wisatawan kebanyakan
Tulisan ini adalah sebuah catatan perjalanan; bukan panduan lengkap, tapi semoga cukup untuk memberi gambaran bahwa Magelang layak dinikmati lebih dari sekadar transit ke Borobudur.
Hal yang Bikin Magelang Terasa Berbeda dari Destinasi Wisata Lain
Begitu keluar dari area Borobudur dan masuk ke jalan-jalan kecil menuju perbukitan di sekitarnya, coba buka kaca kendaraan dan rasakan udaranya. Beda. Bukan dingin seperti di Bandung atau Malang, tapi sejuk yang lembap dengan panorama alam yang hijau — khas dataran tinggi Jawa Tengah. Jalanannya berkelok, melewati desa-desa yang rumahnya masih banyak bergaya Joglo, dengan halaman luas dan ayam berkeliaran.
Suasana seperti ini yang menurut saya membuat Magelang punya karakter sendiri. Tidak terlalu ramai seperti Jogja, tidak terlalu sepi seperti kota kabupaten pada umumnya. Ada ritme hidup yang terasa lebih tenang, dan itu justru menjadi nilai jual utamanya kalau kita mau merasakan perjalanan yang lebih memorable daripada sekadar checklist destinasi.
Nikmati saja perjalanan dengan santai, dan tidak terburu-buru, apalagi memang tidak ada target harus ke berapa tempat dalam sehari. Yang ada cuma satu aturan: kalau lewat tempat yang menarik, berhenti.
Wisata Selain Candi Borobudur yang Layak Dikunjungi di Magelang
Magelang punya lebih banyak tempat menarik daripada yang kebanyakan wisatawan sadari. Beberapa di antaranya justru jaraknya sangat dekat dari Borobudur, tapi jarang dimasukkan ke itinerary karena orang keburu pulang setelah dari candi.
Bukit Rhema (Gereja Ayam) — ini yang paling dekat, hanya sekitar 10 menit dari Borobudur. Bangunan ikoniknya memang sudah terkenal dari film AADC 2, tapi yang membuat banyak wisatawan betah adalah perbukitan Menoreh terhampar luas, dan kalau datang pagi-pagi sekali, sunrise-nya spektakuler. Ada juga paket sunrise eksklusif yang dimulai sebelum wisatawan umum berdatangan.
Punthuk Setumbu — spot sunrise lain yang populer, dengan view Borobudur dari kejauhan berlatar gunung berapi. Untuk bisa menikmati keindahan Punthuk Setumbu kita perlu naik tangga cukup banyak, tapi pemandangannya sepadan.
Desa Wisata Candirejo — bisa dijelajahi dengan naik andong atau jalan kaki. Di sini saya melihat proses pembuatan gula Jawa dari nira kelapa, dan suasananya benar-benar pedesaan Jawa yang otentik.
Candi Pawon dan Candi Mendut — dua candi yang jauh lebih kecil dari Borobudur, tapi justru karena sepi, bisa dinikmati dengan lebih tenang. Detailnya juga sangat indah kalau diamati dari dekat.
Ketep Pass — agak lebih jauh (sekitar 30 km dari Borobudur), tapi Ketep Pass menawarkan pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu yang sangat dramatis, terutama di pagi hari saat kabut masih menyelimuti lembah.
Semua tempat ini bisa dikunjungi dalam dua hari kalau kita tidak memaksakan diri. Dan justru di antara perpindahan dari satu tempat ke tempat lain itulah keseruan perjalanan di Magelang terasa — lewat jalan-jalan kecil yang pemandangannya cantik, berhenti sebentar di warung pinggir jalan, menikmati udara yang tidak bisa didapat di kota besar.
Kenapa Kuliner Jadi Bagian Penting dari Pengalaman Wisata Magelang
Hal lain yang juga harus kita nikmati saat di Magelang adalah, nikmati juga kekayaan kuliner daerah ini. Jadikan makan bukan sekadar mengisi perut di sela-sela wisata, melainkan sebagai bagian dari pengalamannya sendiri. Banyak tempat makan di kawasan Borobudur yang lokasinya bukan di pinggir jalan biasa — melainkan di atas bukit, di tepi sawah, atau di halaman rumah Joglo yang dijadikan restoran.
Artinya, waktu makan itu sekaligus waktu menikmati pemandangan, istirahat, dan menyerap suasana. Bukan makan buru-buru di rest area lalu lanjut ke tujuan berikutnya. Justru di Magelang, tempat makannya bisa menjadi tujuan wisata itu sendiri.
Makanan khasnya pun punya karakter. Mangut Beong — ikan sungai Progo yang dimasak dengan kuah santan kuning kental — ini cuma bisa ditemukan di sini. Sego Godog Magelang, mie kuah khas yang kuahnya gurih dan menghangatkan. Kupat tahu dengan bumbu kacang yang kental dan sedikit manis. Semua ini bukan makanan yang harus dicari susah-susah di restoran mewah, tapi justru ada di warung-warung sederhana di sepanjang jalan menuju Borobudur.
Kalau ingin referensi tempat makan dekat Candi Borobudur yang lebih lengkap, saya menemukan panduan yang cukup detail untuk berbagai kebutuhan — dari makan keluarga sampai rombongan besar.
Makan Siang di Kedai Bukit Rhema: Kuliner dengan Pemandangan Perbukitan
Salah satu tempat makan yang bisa dijadikan pilihan adalah Kedai Bukit Rhema, yang lokasinya berada langsung di kawasan wisata Bukit Rhema. Tak salah menjadikan tempat ini menjadi destinasi wisasta kuliner usai puas berjalan-jalan di area Gereja Ayam dan menikmati pemandangan dari atas bukit. Keuntungannya adalah tinggal turun sedikit dan langsung bisa makan tanpa harus naik kendaraan lagi ke tempat lain.
Tempatnya berlantai tiga, dan dari lantai atas, pemandangan Perbukitan Menoreh terbuka lebar. Ini bukan restoran yang kebetulan punya view — ini restoran yang memang dibangun supaya tamunya makan sambil melihat pemandangan. Udara di situ juga masih sejuk karena posisinya di atas bukit.
Soal makanan, basisnya Nusantara. Salah satu menu andalan adalah ayam bakar yang bumbunya meresap sampai ke dalam, nasi hangat, dan sayur lodeh. Rasanya enak — bukan "enak untuk ukuran restoran wisata," tapi memang enak. Bumbu ayam bakarnya khas Jawa, santan lodehnya pas, dan sambalnya disajikan terpisah jadi bisa disesuaikan selera. Harganya juga sangat terjangkau, mulai dari Rp 25.000 per porsi.
Yang membuat tempat ini memorable bagi banyak orang adalah kombinasi antara makanan yang enak, pemandangan yang indah, dan kenyataan bahwa tidak perlu buru-buru pergi ke mana-mana setelah makan. Bisa duduk, menikmati kopi, dan membiarkan waktu berjalan tanpa merasa dikejar itinerary. Percayalah, perjalanan yang dirancang untuk tidak terburu-buru, justru membuat setiap momen menjadi berharga.
Tips Menyusun Itinerary Magelang yang Tidak Terlalu Padat
Magelang paling seru kalau dinikmati dengan tidak memasukkan terlalu banyak destinasi dalam satu hari. Berikut beberapa prinsip yang bisa teman-teman terapkan:
Menginap minimal satu malam. Magelang bukan destinasi yang bisa dinikmati dalam day trip dari Jogja. Secara teknis memang bisa, tapi yang didapat cuma Borobudur lalu macet di jalan pulang. Menginap semalam membuka kemungkinan untuk menikmati sunrise, makan malam di tempat lokal, dan menjelajah tanpa tekanan waktu.
Maksimal tiga destinasi per hari. Jaraknya memang tidak jauh-jauh, tapi waktu yang dihabiskan di setiap tempat biasanya lebih lama dari perkiraan — apalagi kalau pemandangannya bagus dan kita ingin menikmati suasana. Tiga destinasi per hari sudah cukup padat tanpa membuat perjalanan terasa seperti lomba.
Jadikan tempat makan sebagai destinasi, bukan transit. Ini yang paling mengubah cara saya menikmati Magelang. Alih-alih mencari restoran tercepat supaya bisa lanjut ke tempat berikutnya, saya memilih tempat makan yang suasananya menyenangkan dan mengalokasikan waktu yang cukup untuk benar-benar duduk dan menikmati.
Sisipkan waktu kosong di sore hari. Sore hari di Magelang itu cantik — cahayanya hangat, udaranya mulai sejuk, dan pemandangan perbukitan berubah warna. Sayang kalau waktu itu dihabiskan di dalam mobil menuju destinasi terakhir. Lebih baik menyisakan satu jam untuk sekadar duduk di tempat yang pemandangannya bagus.
Jangan abaikan perjalanan antar-destinasi. Di Magelang, jalannya sendiri sudah jadi pemandangan. Sawah bertingkat, gunung di kejauhan, desa-desa yang tenang — semua itu terlihat dari jendela kendaraan. Rugi melewatkannya hanya dengan tidur sepanjang perjalanan.
Contoh Rute Dua Hari di Magelang
Untuk yang ingin gambaran lebih konkret, ini rute yang saya jalani dan bisa dijadikan referensi:
Hari pertama — sampai Magelang dari Jogja sekitar pukul 10 pagi, langsung ke Candi Borobudur karena lebih sepi di jam menjelang siang dibanding pagi. Setelah dari Borobudur, mampir ke Candi Pawon yang jaraknya hanya beberapa menit. Lalu makan siang di kawasan Bukit Rhema sambil menikmati pemandangan. Sore hari santai di sekitar penginapan.
Hari kedua — bangun sebelum subuh untuk sunrise di Gereja Ayam Bukit Rhema ala AADC 2. Setelah itu sarapan, lalu jelajahi Desa Wisata Candirejo. Sebelum pulang, mampir makan siang di salah satu warung lokal untuk mencicipi Mangut Beong atau Sego Godog. Perjalanan pulang ke Jogja di sore hari, sebelum jalanan ramai.
Rute ini santai, tidak terburu-buru, dan memberikan ruang untuk menikmati setiap tempat tanpa harus berlari dari satu titik ke titik berikutnya.
Magelang Layak Lebih dari Sekadar Transit
Saya jadi memahami kenapa beberapa teman yang pernah tinggal di Magelang selalu bilang bahwa kota ini "underrated." Magelang punya segalanya — sejarah, alam, kuliner, budaya — tapi karena Borobudur terlalu dominan sebagai magnet wisatawan, semua hal lain di sekitarnya jadi terlewat.
Padahal justru hal-hal di sekitar Borobudur itulah yang membuat perjalanan ke Magelang terasa lebih utuh dan lebih memorable. Bukan cuma punya foto di depan candi, tapi punya cerita tentang sunrise yang dilihat dari Bukit Rhema, tentang rasa Mangut Beong yang pertama kali dicoba, tentang jalan-jalan kecil yang pemandangannya bikin lupa waktu, dan tentang makan siang di atas Kedai bukit Rhema sambil memandang Perbukitan Menoreh.
Kalau ada kesempatan berikutnya ke Magelang, saya pasti tidak akan menjadikan Borobudur satu-satunya alasan datang. Justru semua yang ada di sekitarnya itulah yang membuat saya ingin kembali.





Post a Comment
Post a Comment