Kawah Putih, Wisata Alam Cantik di Ciwidey

A

lhamdulillah, pada suatu long weekend di bulan April  Saya, Pak Suami, dan Alya punya kesempatan dolan ke Bandung, ke tempat kakak, pakde-bude nya anak-anak.  Jumat pagi berangkat dari Jogja, Sabtu jalan-jalan, dan Minggu pagi balik ke Jogja lagi.    Si sulung? Milih di rumah. Kebeneran, tak khawatir dengan  anabul di rumah.

Sama dengan saat ke Banyuwangi, moda transportasi yang dipilih adalah Kereta Api. Turun stasiun Bandung, dijemput kakak + kakak ipar untuk kemudian menginap di Cimahi, dan Sabtu pagi kami berlima ke Kawah Putih. Secara lokasi, Kawah Putih berada di Kaki Gunung Patuha, daerah Ciwidey Bandung. 

Kali ke 2 ke Kawah Putih

Kawah putih Ciwidey

Ini kedua kalinya kami ke Kawah Putih, setelah sekian lama.  Kalau Alya, baru sekali ke sini.  Makanya sejak awal, si bocah terlihat semangat 45. Untungnya semesta mendukung. Meskipun Jumat sore sempat diguyur hujan lebat dan angin kencang, Sabtu pagi langit tampak bersih. 

Berlima –dengan menggunakan kendaraan pribadi, kami menuju Ciwidey. Tujuan utama, ke Kawah Putih. Kalau di dolan pertama kali dulu kami membawa mobil pribadi sampai ke area kawah, kali ini diniatkan mencoba yang lain, yaitu menggunakan Ontang-anting;   kendaraan shuttle berwarna orange yang akan membawa pengunjung dari area bawah (gerbang utama/loket pembelian tiket) menuju area kawah. Biaya untuk menggunakan Ontang-anting ini, dibeli di loket yang sama, dengan harga masing-masing sekitar 30an ribu/pengunjung. 

Seberapa asyik naik ontang- anting? Seru  kok!  Sebagai gambaran, mobil untuk Ontang-anting ini bentuk dasarnya mirip angkot (cmiw, Suzuki Carry) yang sudah dimodifikasi bentuknya sedemikian rupa, dan muat sekitar 10 penunpang dewasa. Pengalaman baru untuk saya, apalagi Alya yang hampir tidak pernah naik angkot. 

Konsep kendaraan yang semi terbuka, membuat mata menjadi lebih leluasa dan angin segar pegunungan yang cenderung sejuk dan dingin juga lebih  terasa. Pak Sopir yang memang pasti sudah hapal tanjakan dan kelokan, akan membawa Ontang-anting bergerak melesat, dan inilah bagian terserunya. Meski Ontang-anting bisa dibilang kendaraan lumayan jadul, tapi ditangan “pawangnya”, ia terlihat lebih gesit menyelesaikan   jarak 5 km an secara cepat.  Sekitar 15an menit kami terguncang di atas kendaraan shuttle ini, dan tibalah di kawasan Kawah Putih. 

Kawah ini terbentuk dari aktivitas vulkanik Gunung Patuha yang meletus sekitar abad ke-10 dan ke-12 yang kemudian meninggalkan kawah berisi air, dan membentuk danau. Warnanya yang cenderung putih terbentuk akibat kandungan belerang yang tinggi. Ini juga yang menjadikan aroma belerang,  menyengat tercium bahkan sebelum sampai kawasan danau. Karena alasan itu pula, disarankan menggunakan masker dan juga tidak berlama-lama berada di sekitar danau

Tingginya kadar belerang, menjadikan sekitaran danau menjadi area yang “sepi” dari hewan dan tumbuhan. Tak ada burung yang terbang melintas di atas kawah. Ikan pun tak ada yang mampu hidup di air danau. Vegetasi yang dominan juga hanya satu jenis tanaman, yaitu centigi yang kemudian mengingatkan saya dengan wisata Tangkuban Perahu. Ya, di sana pun, hanya tanaman ini yang dominan dan dikenal masyarakat sebagai tanaman Manarasa.

Cantigi yang tidak mampu bertahan hidup di tepian danau, banyak terlihat mengering dan mati, dengan batang dan ranting yang menghitam. Tapi pemandangan seperti inilah yang justru menjadi view khasnya Kawah Putih; lanskap yang mirip suasana di luar negeri. Pemandangan seperti ini yang membuat Kawah Putih ramai oleh wisatawan, dan digemari pemburu foto atau video. Batang hitam dan mengering, kabut yang bergerak pelan, danau dengan air yang berwarna putih memberi Kesan mistis, tapi estetik di kamera.  Banyak yang bilang, signature looknya Kawah Putih adalah minimalis, kontras, dan atmosferik.

Kawah Putih Versi Video


Related Posts

Post a Comment