Dolan ke Grojogan Sewu, Tawangmangu

Post a Comment
B

eberapa kera ekor panjang yang berlompatan di antara beberapa mobil yang terparkir, menjadi pemandangan pertama begitu sampai di areal wisata. Mirip suasana di Kaliurang, tapi ini di kaki Gunung Lawu,  tepatnya Grojogan Sewu,  Tawangmangu.

Air terjun grojogan sewu, tawangmangu
Menikmati Grojogan Sewu sambil duduk-duduk santai

Air terjun Grojogan Sewu merupakan alah satu destinasi wisata alam yang terkenal di Jawa Tengah. Sejak lama, tempat ini menjadi pilihan banyak wisatawan untuk menikmati keindahan alam.

Udara segar berpadu hawa dingin langsung terasa begitu turun dari kendaraan. Udara khas pegunungan. Yup, kami berada di ketinggian sekitar 950 mdpl. Bergegas kami menuju loket, menukar uang senilai 116 ribu dengan 4 lembar tiket.  Oh, iya kami masuk Grojogan Sewu melalui loket 1. Modal ngikut aplikasi Google Maps.

Grojogan Sewu 2026

Air terjun grojogan sewu 2026
Air terjun Grojogan Sewu

Dulu sebelumnya pernah ke Grojogan Sewu. Tapi tahun 2002 mungkin. Puluhan tahun yang lalu. Saat ini  wisata air terjun Grojogan Sewu memiliki 2 pintu masuk/2 pintu loket, yaitu pintu masuk atas (loket 1) dan pintu masuk bawah (loket 2). 

Lokasi pintu kedua berada lebih rendah dengan jalur yang lebih landai. Tetap ada tanjakan/anak tangga, tapi tidak terlalu banyak. Dari artikel yang saya baca, misal masuk melalui loket bawah/loket 2 maka jarak untuk sampai ke air terjun hanya 300an meter. 

Kalau loket 1? Loket 1 atau pintu atas merupakan pintu masuk asli dan utama sejak awal Grojogan Sewu dibuka sebagai lokasi wisata. Makanya, dari awal yang saya bayangkan adalah kami bakalan tracking cukup jauh untuk bisa menjangkau air terjun, sekitar 900m-1 km an jalan kaki turun. Turunnya mungkin enteng, naiknya ini mungkin yang harus berjuang. Tapi memang sudah diniatkan, mau olahraga sekaligus test stamina badan. 

Untuk dua bocah, Raka dan Alya..saya maupun ayahnya sengaja nggak cerita kalau untuk menjangkau air terjun Grojogan Sewu ini harus berjalan turun lumayan jauh. Gen Z, takutnya mogok kalau dapat bocoran medan yang sebenarnya. Alya terutama. Kategori mager soalnya. 

Jadi sebelum berangkat ke lokasi saya cuma cerita kalau tempat yang bakal didatangi sejuk cenderung dingin (siap-siap jaket), banyak monyet (jadi barang bawaan taruh tas). 

Alhamdulillah, sampai lokasi semua terkondisi. Nggak ada yang protes atau ngeluh saat jalan. Jalur berupa tangga yang akan mengantar kami ke air terjun, bahkan berasa milik pribadi. Sepi. 

“Pak, ini akhir pekan..tapi kok sepi banget ya?” saya sempat menanyakan itu ke petugas kebersihan yang kami temui pas jalan. 

“Oh..ada juga kok tadi. Dan jalur keluarnya memang beda..jadi lebih sepi. Lagian mungkin karena sekarang banyak obyek wisata baru di Tawangmangu. Kalau dulu kan ke Tawangmangu identiknya Grojogan Sewu” Begitu jawab Pak petugas kebersihan.

Masuk akal juga kata bapak petugas kebersihannya. Lagian, pasti nggak banyak juga yang mau turun dan naik tangga yang jumlahnya lebih dari 1000. Bisa jadi akan lebih banyak yang memilih masuk melalui loket 2 yang jalurnya lebih landai dan dekat.

Kami berjalan santai. Kadang berhenti sambil mengamati tingkah polah kera ekor panjang yang banyak kami temui sepanjang jalan. Sekitar 30 menitan waktu yang kami butuhkan untuk menjangkau air terjun.

Grojogan sewu via loket 1
Suasana jalan setapak menuju air terjun Grojogan Sewu. Kadang jalan biasa, kadang berbentuk tangga 

Sekarang air terjun  dengan ketinggian sekitar 80 meter  itu benar-benar di depan mata. Debit airnya deras yang kemudian mengalir  menjadi sungai di bawah air terjun. 

Selain kami berempat, ada beberapa pengunjung lain, tapi tidak banyak. Tidak sampai 20 orang yang mungkin saja masuk melalui loket 2 atau loket satu dan datang sebelum kami. Memang tidak seramai Grojogan Sewu jaman dulu. Kalau dari POV pengunjung, kondisi seperti ini malah lebih nyaman, tidak umpel-umpelan istilahnya. Bisa lebih leluasa menikmati keindahan alamnya. 

Grojogan Sewu dalam bahasa Jawa berarti air terjun seribu. Meskipun  secara riil air terjun yang ada di sini hanya satu, namun penamaan Grojogan Sewu dipercaya melambangkan banyaknya aliran air dan derasnya curahan air yang jatuh dari ketinggian

Demi keamanan, pengunjung tidak diperbolehkan bermain di bawah ataupun di aliran sungai. Cukup dengan menikmati kabut air dan cipratan halus yang bahkan bisa membuat baju  basah kalau berlama-lama mendekat kearah air terjun.

Sate Kelinci, Kuliner Khas Grojogan Sewu.

Cara lain yang aman dan nyaman ke Grojogan sewu adalah menikmati kuliner khas. Salah satunya, sate kelinci. Menu ini dikenal luas sebagai salah satu kuliner khas Tawangmangu, khususnya di sekitar wisata Grojogan Sewu. 

Keberadaan menu ini tentu saja tidak muncul secara tiba-tiba. Tawangmangu yang dingin, kondisinya cocok untuk mengembangkan peternakan kelinci. Adanya banyak wisatawan saat itu, kemudian muncul kebutuhan akan makanan yang cepat diolah, cepat disajikan dan cocok dikonsumsi saat udara dingin, dan kemudian lahirlah sate kelinci sebagai menu khas daerah Tawangmangu. Lambat laun, sate kelinci tidak lagi menjadi makanan lokal, tetapi menjadi identitas wisata Tawangmangu.

Warung-warung yang menyediakan menu sate kelinci, banyak dijumpai di seputaran obyek wisata. Kami memilih menikmati sate di penjual yang posisinya paling dekat dengan air terjun, Sate Ayam dan Kelinci Pak Kini. 

Sate Tawangmangu
Makan sate view Grojogan Sewu
20.000/porsi untuk sate kelinci & 15.000/porsi untuk sate ayam

Ahh, perut sudah kenyang. Mata dan pikiran sudah puas menikmati keindahan Grojogan Sewu dari dekat. Saatnya kembali ke parkiran dan menyelesaikan tantangan, yakni naik ke atas, menyusur jalan setapak dan ribuan anak tangga. Yuk, bisa! Teman-teman, coba juga yuk! 

Tangga Grojogan Sewu
Yey, lolos 1250 anak tangga 😀


Gojogan Sewu dalam Video


Newest Older

Related Posts

Post a Comment