Pantai Cemara Sewu Saat Pemberlakuan New Normal



Pantai-cemara-sewu-bantul

Setelah lebih dari 3 bulan ditutup karena pandemi Covid—19, mulai awal Juli 2020 beberapa obyek wisata pantai di Kabupaten Bantul mulai dibuka untuk pengunjung. Salah satunya, pantai Cemara  Sewu.

Pantai Cemara Sewu sendiri merupakan salah satu obyek wisata pantai yang terletak segaris dengan Pantai Parangtritis, Pantai Depok, dan juga beberapa pantai baru lainnya. Daya tarik utama pantai Cemara Sewu adalah barisan pohon cemara udang yang membuat kawasan pantai terlihat teduh. Bahkan karena alasan ini pula, saya bahkan menobatkan pantai ini sebagai kawasan pantai paling teduh di Kabupaten Bantul.


Datang di pantai ini saat pandemi  belum berakhir, tentu saja berbeda rasa. Meskipun statusnya sudah dibuka, tetapi rasa was-was itu tetap saja ada. Sadar sepenuhnya, angka-angka dan grafik masyarakat yang terpapar virus di Indonesia masih saja tinggi dan pembukaan obyek wisata merupakan salah satu jalan saja untuk menjaga agar roda perekonomian  dari sektor pariwisata tetep bergerak. 

Pantai Cemara Sewu Saat New-Normal, Pastinya Tampil Beda

Yang pasti, penerapan protokol kesehatan yang wajib dilaksanakan semua pengunjung, tidak hanya yang mengunjungi pantai Cemara Sewu saja, tapi semua pantai-pantai yang sudah dibuka. Saat memasuki pintu retribusi, satu petugas berseragam APD akan memberikan pelayanan pembelian tiket secara langsung (offline), sementara satu petugas lainnya dengan sigap akan mengukur suhu tubuh pengunjung dengan thermo gun.

Selain itu,  pengunjung juga diwajibkan menggunakan masker dan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kran-kran air, sabun, dipasang berderet di sepanjang jalan masuk menuju pantai. Jumlahnya lumayan banyak, jadi pengunjung tidak perlu antri.

Di jalan masuk menuju pantai, telah tersedia kran air bersih+sabun cair untuk keperluan cuci tangan pengunjung


Sengaja saya ke Pantai Cemara Sewu tidak di hari Minggu. Tujuannya menghindari keramaian. Di hari yang hampir semua masyrakat mendapatkan hari libur, saya takut terlalu banyak kerumunan.  Intinya, saya masih merasa tidak tenang saja kalau di tempat publik yang padat pengujung. Takut kalau nanti pulang dari lokasi malah membawa virus. 

Sama seperti pagi itu. Pantai Cemara Sewu terlihat masih lengang. Tak banyak pengunjung, beberapa mendirikan tenda di bawah rimbunnya pohon cemara udang. Beberapa santai di atas Hammock yang tergantung di batang pohon.  Pada dasarnya kami masih sangat mudah mencari space-space yang memungkinkan untuk tidak berinteraksi langsung dengan orang lain. 
Pantai-cemara-sewu-bantul
Sejenak lepas masker yaa...menikmati udara pagi pesisir pantai yang segar

Pantai-cemara-sewu-saat-new-normal
Pantai masih sepi..udara masih segar
Semoga bebas dari paparan virus Corona

Pagi itu, saya lihat pemancinglah yang mendominasi bibir pantai. Ombak yang cukup tinggi dan ubur-ubur laut yang banyak terdampar di tepian pantai, sepertinya membuat pengunjung enggan untuk turun bermain air.
 

Ketika Memutuskan Untuk Keluar Rumah di Saat Pandemi Belum Berakhir 

Pantai-bantul-era-new-normal
Musim kemarau, menjadikan daun-daun cemara udang terlihat meranggas


Sebenarnya ini dilematis. Di satu sisi, memutuskan untuk tetap di rumah saja selama wabah Corona ini belum usai adalah cara yang terbaik. Cuma pertanyaannya adalah, sampai kapan? Di sisi yang lain,  kami butuh suasana yang berbeda. Anak-anak juga harus disegarkan, karena di rumah saya merasa mereka sudah terlalu akrab dengan game dan televisi. Maka ketika memutuskan untuk keluar rumah, apalagi mesti ke tempat publik  di saat pandemi Covid-19 seperti ini, ada beberapa hal yang harus kami pertimbangkan misalnya:

Menghindari hari-hari yang diprediksi ramai pengunjung. Misalnya ada dua hari libur kerja, maka lebih baik memilih hari Sabtu bukan Minggu.  Atau kalau memungkinkan, pilih saja hari ketika yang lain bekerja. Tujuannya adalah untuk menjauh dari kerumunan.

Memilih tempat-tempat yang sekiranya luas, lapang, muat banyak orang.  Makanya kami ke pantai.  Pertimbangannya, areanya lebar..jadi kalaupun di lokasi banyak orang, masih bisa menghindar dari kerumunan. Bahkan kalau kenyataan di lokasinya terasa padat pengunjung, kami berencana untuk tidak turun dari mobil. Itung-itung sekedar jalan, memanaskan mesin mobil, cuci mata di jalan. Sesimpel itu. 

Kalau teman-teman sendiri bagaimana? Sudah  mencoba jalan ke obyek wisata saat penerapan era baru diberlakukan?




3 komentar

  1. cemaranya mirip sama pantai di banyuwangi mbak
    wah iya memang was was ya
    aku juga belum berani jalan jalan jauh
    iya memang enak pilih sabtu kalau minggu bisa rame banget

    ReplyDelete
  2. bener kalau mau wisata jangan weekend ya pasti penuh

    ReplyDelete
  3. Hihi aku yo ho oh mba lis, mantai juga, ning yaiku sama kayak mba lis, milihe pas sepi, sore nuju magrib sik ga patio panas ahahha, lumayan ngademke utek sejenak biar tercharge kembali untuk memulai hari yakan

    ReplyDelete