Travelling ke Bromo Bersama Bocah, Mungkin Nggak? (part 2)

Bromo itu memukau, terlebih saat matahari terbit, semua juga mengakuinya. Tapi  apakah Bromo nyaman untuk dikunjungi semua umur? Itu yang sering jadi pertanyaan kaum emak seperti saya. Maklum, kadang kalau sudah diposisi sebagai orang tua, mau pergi agak jauhan dikit...pertimbangannya banyak. Ha...ha, hukum alam kali yaa😀😀


Dengan alasan penasaran pengen melihat Bromo secara langsung plus sekalian mengajak anak-anak, maka blogpost ini lahir. Yaa, kalau bermanfaat buat yang mbaca ya syukur, kalaupun berhenti sebatas dokumentasi pribadi, ya gak apa-apa juga. Perjalaanan Jogja-Malang, Malang-Pos Tosari, akhirnya mempertemukan kami dengan  Pak Handik, seorang Guide untuk kawasan Bromo.  
***



Jeep berwarna hijau muda itu sudah siap, beberapa menit setelah sepiring nasi pecel di depan saya bersih tak bersisa. Pak suami juga sudah menyelesaikan semangkok soto yang ia pesan. Hanya Alya yang masih berusaha menghabiskan potongan telur dadar di piring. 

Pagi itu, kebiasaan susah makannya kambuh. Ia bersikeras nggak mau menyantap nasi untuk sarapan, melainkan hanya ‘nggado’ potongan telur dadar.  Semoga nanti nggak rewel di jalan. Kadang anak kecil kan gitu, kalau posisi lapar, kadang bawaannya apa saja jadi salah.

“Berapa kilometer  Pak, perjalanan kita nanti?” Tanya saya begitu masuk Hardtop.

“Kalo dari sini ke Pananjakan, sekitar 12 kilo. Tapi kita ke Bukit Cinta dulu. Yang paling jauh, Bukit Telletubies”  Jawab pengemudi jeep yang kemudian saya tahu bernama Pak Dian. Dari wajahnya, sepertinya pak Dian masih cukup muda. Namun ia mengaku, sudah sekitar 5 tahun menekuni pekerjaan sebagai driver Hardtop dan mengantar para tamu menikmati keindahan Bromo.

Hardtop pun melaju. Pertama yang kami tuju adalah pos Wonokitri, tempat dimana kami harus membeli tiket  pengunjung untuk masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Harga tiket sebesar 25.000/pengunjung dan 10.000 untuk 1 kendaraan.

Dari Wonokitri, tujuan kami berikutnya adalah Bukit Cinta. Untuk ke sana, medan yang kami lalui lumayan berkelok, tapi karena Pak Dian sepertinya sudah  hapal dengan baik semua medan yang mesti dilalui, jadi nggak ada masalah. Dengan segera,  Bukit Cintapun bisa di depan mata


Bukit Cinta, Saksi Kisah Cinta Roro Anteng dan Joko Seger

Roro Anteng-Joko Seger adalah dua sosok yang diyakini sebagai cikal bakal suku Tengger yang mendiami kawasan Bromo saat ini, dan dinamakan Bukit Cinta, karena konon di sinilah mereka jaman dahulu memadu kasih. Berada di  ketinggian 2.680mdpl, bukit inipun sebenarnya juga bisa digunakan untuk “mengintip” kecantikan Bromo saat matahari terbit. 

Bromo-dari-Bukit-Cinta
View dari Bukit Cinta

Saat siang, maka dari atas Bukit Cinta ini yang terlihat adalah kokohnya gunung Batok, Bromo, dan Widodaren dengan latar belakang Gunung Semeru. 

“Bu..itu jeepnya kayak semut” komentar sulung saya, Raka.

Yess! Dari Bukit cinta ini, ratusan jeep/Hardtop yang tengah berada di kaldera Bromo terlhat mungil sekali, mirip dengan semut.  Nggak nyesel berlama-lama di sini, meski tak lagi dini hari. Selain udara yang seger banget, serius..view  alamnya cakep banget. Betah dan nggak bakalan bosan.

“Kita ke Pananjakan nggak? Tapi kalau jam segini ya sudah sepi..sudah pada turun” Pak Dian memberikan tawaran kepada kami, setelah beberapa saat kami menikmati keindahan Gunung Batok dan Gunung Bromo dari ketinggian Bukit Cinta.

“Ya udah pak,  Pananjakannya skip aja..kita ke Bromo langsung”

Tanpa menunggu lama, Hardtop bernomor body 120 itu pun melaju kembali, menuruni jalanan berkelok, menyusuri kaldera Bromo.

Kaldera,  Pura Luhur Potten,  Kawah Bromo, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies


“Ini kalau musim hujan...di sini kadang banjir.. Tapi kalau musim kemarau begini, resikonya ya berdebu. Tapi memang lebih bagus setelah musim hujan kemarin....bukit yang di sana hijau semua. Itu rumput-rumputnya, juga hijau. Kalau sekarang kan sudah mulai pada kering. Kecoklatan” Terang pak Dian pada kami.

“Nanti, jeep akan parkir di  depan itu. Selanjutnya untuk sampai ke bawah tangga (jalan menuju kawah maksudnya) bisa jalan kaki, atau naik kuda. Kalau mau milih naik kuda, rata-rata 150ribuaan, PP, tapi itu bisa dinego, karena siang” Kembali pak Dian memberi info kepada kami. Dari beliaulah kami tahu, kalau hampir semua yang di Bromo ini bisa dinego, termasuk tarif jeep yang menurutnya sebenarnya bisa dinego di kisaran 600-an ribu (100 untuk yang mbantu nyariin, dan 500 untuk sewa jeep). Atau bahkan kalau mau langsung booking ke pengemudi jeep, 500 ribu standardnya. 

Terlanjur keluar 750 ribu untuk jeep, ya sudah. Buat pengalaman kalo next ke Bromo lagi.

Sekitar pukul 10 kami benar-benar menginjakkan kaki di Kaldera Bromo. Untuk menuju kawah, kami memilih jalan kaki.  Anak-anak tidak mau naik kuda.  Takut katanya.

Bromo Cerah banget!

Gunung Batok

Kaldera Bromo, tampak dari kejauhan Pura Luhur Potten


Pagi itu langit  Bromo terlihat biru cerah, tapi tidak berasa panas tapi juga tidak  dingin yang membuat menggigil. Yang ada, justru debu pasir yang kadang beterbangan.

Di musim kemarau seperti saat ini, badai pasir memang kerap terjadi. Wujudnya seperti pasir yang bergulung, dan kemudian terbang. Fenomena ini rupanya menarik perhatian anak-anak. Mereka mengira badai pasir sama dengan angin puting beliung, karena secara penampakan memang mirip. 

Untungnya, saya siap sedia masker sebelum berangkat. Jadi, paling tidak bisa meminimalisir debu yang dihirup anak-anak.

Di kejauhan, tampak  Pura Luhur Potten yang biasa digunakan masyarakat Tengger untuk melakuakan ritual adat/keagamaan. Untuk diketahui, hampir semua masyarakat di kawasan ini adalah penganut Hindu yang taat. 

Di sisi kanan, terlihat gunung Batok yang berdiri kokoh.  Batok dalam bahasa Jawa berarti tempurung kelapa. Penduduk Tengger percaya,  Gunung Batok terbentuk dari  tempurung kelapa yang ditendang oleh Resi Bima, setelah gagal mempersunting Rara Anteng. 

Keputusan untuk berjalan kaki sampai bawah anak tangga, ternyata merupakan keputusan yang salah. Anak-anak kepayahan, dan mogok nggak mau melanjutkan menaiki 250 anak tangga. Ya sudah, akhirnya saya nungguin anak-anak, pak Suami yang naik untuk melihat kawah Bromo secara lebih dekat.  Meski begitu, rupanya drama mogok jalan gara-gara kepayahan ini ada berkahnya juga. Akhirnya mereka mau balik ke parkiran dengan cara menunggangi kuda. 

“Aku mau naik kuda kalau pulang nanti...”


Pasir-pasir yang kemudian mengendap

Gara gara kepayahan, akhirnya malah jadi berani naik kuda😃 1x jalan, 60 ribu

Note: Buat yang mengunjungi Bromo dengan anak kecil, hemat energi mereka di bagian ini. Bawa bekal minuman, cemilan, atau manfaatin jasa menunggang kuda kalau memang dirasa tidak kuat. Medan cukup berat untuk anak-anak. Saya aja ngos-ngos an 😀😀


Di depan sana..ada 250 anak tangga yang (harus)nya kami naiki untuk melihat kawah Bromo secara dekat. 
Anak tangga ini yang akan mengantarkan pengunjung untuk melihat kawah Bromo secara lebih dekat

Anak-anak sudah nggak kuat naik tangga. Kami bertiga nunggu di bawah, dan hanya pak suami yang berhasil melihat kawah Bromo. 

Lepas dari area kawah, Pak Dian kembali membawa kami dengan Hardtopnya, menyusur kaldera pasir yang luas, memberi kesempatan untuk berfoto dan juga melihat Bukit Teletubis.“Sayangnya rumputnya suah banyak yang kering, kalau pas hijau kemarin..memang jadi mirip bukit di film anak-anak itu” ujar Pak Dian.

Nggak lama kami menyusur area pasir berbisik dan bukit teletubis. Versi videonya  bisa dilihat di sini:

:

Pengalaman kami memang nggak sempurna. Tak semua kecantikan Bromo bisa kami nikmati hari itu. Tapi memang karena niatnya memang dibawa santai, yang penting anak-anak nggak rewel, ya nggak masalah. 

Poin penting saat membawa anak-anak ke Bromo:
Jangan lupa, baju hangat + masker penutup hidung, karena terpaan angin membuat pasir-pasir beterbangan
Snack+air minum yang cukup
Jangan ragu untuk nego, jeep terutama. Untuk lebih hemat, sewa jeep di pos terakhir (Wonokitri). Untuk urusan ini, saya ngesave no hp Pak Dian yang jeepnya bisa dibooking (Dian, 081232775484)
Hemat tenaga, terutama anak-anak. Kecuali ingin seperti saya, nggak jadi naik ke  tangga menuju kawah karena anak-anak mogok nggak mau jalan.

You Might Also Like

4 comments

  1. Mungkin Bromo lebih cocok untuk wisata anak muda ya Mbak, meskipun anak-anakpun bisa juga dengan beberapa syarat, terutama jangan naik jalan kaki.

    Kalau saya sih lebih ngena kalau jalan kaki naikin anak tangga itu, meskipun capek tapi ada sensasinya, hehe.

    Foto-fotonya bagus, berasa berada di Gurun Pasir ya, haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bener banget mba. Soalnya nggak mungkin juga bawa troley, ataupun gendong. Bisa pingsan :-) Besok klo anak2 udah gedean...pengen ke sini lagi (tapi saya yang makin tua ya jadinya...ha...ha)

      Delete
  2. Dari parkiran jeep sampai bawah tangga ke kawah itu lumayan jauh to mbak?

    Quote yang bisa diambil dari kejadian ini adalah : "keberanian naik kuda bisa muncul disaat kelelahan melanda" ---wuopo iki 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata pemiliki kudanya, 3,5 kilometer. Tapi kayaknya, tangganya diitung deh itu...

      Berangkatnya aja sebenarnya yang agak berat klo jalan (soalnya nanjak, pasir)..tp klo orang dewasa, bisa lah.

      Klo turunnya, enak. Jauh lebih cepat dan berasa lebih dekat

      Delete