Travelling ke Bromo Bersama Bocah, Mungkin Nggak? (part 1)



Ke Bromo itu,  nyaman nggak kalau ngajakin anak-anak? Apa mesti  memulai perjalanan dari dini hari? Apakah Bromo tetap cantik tanpa sunrise? Kalo tiba di Bromo siang hari, apa yang akan saya temukan di sana?  Banyak yang berbagi kisah, Bromo paling indah saat matahari terbit, hinga rata-rata wisatawan mengunjungi Bromo beberapa saat sebelum pagi tiba dan bakal kembali sebelum tengah hari.  Apa harus seperti itu? 

Beberapa bulan lalu, Pernah saya menulis pada sebuah blogpost, kalau saya  adalah pengagum  keindahan panorama Bromo.  Pengen suatu hari bisa menikmati  keindahan Bromo secara langsung, tapi selalu maju-mundur karena  secara jarak Bromo lumayan jauh dari Jogja.  Mesti pake acara nginep,  dan mesti bawa anak-anak. 
Kok ga pergi sendiri? Klo bukan urusan pekerjaan,  saya berasa aneh klo tiba-tiba mesti pergi sendiri. Jadi kalau bepergian jarak jauh  memang harus barengan dengan Pak Suami, plus anak-anak juga karena kami nggak bakalan tega ninggalin anak-anak di tempat simbah/budenya. Nggak mau ngrepotin juga intinya.

Kompromi, maka itulah yang kami ambil. Meski  kabarnya Bromo lagi dingin-dinginnya, bahkan konon katanya  sering terjadi badai pasir,  tapi karena ngepasi libur sekolah anak-anak dan  urusan kerjaan masih bisa kehandle, akhirnya sisa liburan sekolah kemarin kami pake untuk merefresh otak sebentar, merealisasi niatan ke Bromo.  Bawa dua bocah, 12 tahun dan 6 tahun. 

Tanggal 7 Juli berangkat dari Jogja.  Pak Suami sengaja cuti ngantor beberapa hari.  Moda transportasi yang dipakai? Jalur darat, pake mobil; karena berasa lebih ekonomis dan fleksibel. Butuh istirahat atau mampir-mampir di jalan lebih leluasa daripada menggunakan sarana transportasi umum. Karena Pak Suami nggak mau pegang setir kalau perjalanan jauh,  Brio ditinggal di rumah, milih rental plus sekalian driver. Dari Jogja kami berlima; ada Yusgha yang  beberapa bulan lalu juga nganterin kami ke Batu. Kali inipun kami memilih Malang sebagai persinggahan pertama.

Baca juga : Itinerary 3D2N Wisata ke Malang

Sebelum Menuju Bromo, Kami Memilih Malang Sebagai  Tempat Transit 

Sebenarnya, bisa saja kami langsung ke daerah-daerah seputar Bromo untuk mencari penginapan, tapi kami lebih memilih Malang sebagai jujugan. Pertama, karena di Malang  lebih banyak pilihan penginapan. Trus kedua, cari makanan pun pasti akan lebih mudah dan lebih banyak pilihan, dan alasan berikutnya, suhu di Malang pasti tidak sedingin di Bromo. Ya, kalau buat dua orang dewasa hal-hal  seperti tempat nginep, makanan, suhu udara bisa banget dibikin nyantai, tapi ini merupakan langkah kompromistis dengan kondisi anak-anak yang kadang jadi picky eater saat di tempat baru dan tetep khawatir kalau anak-anak kedinginan.

Airy Syariah Lowokwaru, Sigura-gura V/27 Malang

Tempatnya bersih kok
Malam pertama, nggak bisa tidur ni bocah. Giliran mau checkout, ngerasa udah betah


Cari tempat nginepnya yang sederhana saja. Berada di seputaran Kampus Univ Brawijaya, dan ada sisi positifnya. Gampang saat nyari makanan, terlebih pesan makanan secara online




Perjalanan Malang-Bromo

Idealnya kami mesti berangkat dinihari, tapi perjalanan kali ini sengaja kami bikin nyantai.  Kasihan para bocah juga kalau mesti  kami bangunkan jam 1 atau 2 dinihari. Apalagi, malam pertama di Malang Alya tidur larut malam. Nggak bisa tidur, gegara berasa asing sepertinya. 

Paginya, baru selepas sholat subuh kami meninggalkan Malang, modal ngikuti petunjuk aplikasi peta.  Rencana awalnya, kami akan  memasuki Bromo melalui pos Wonokitri, pos  paling akhir kalau kami masuk Bromo melalui Pasuruan 

Meski (sengaja)  kesiangan tapi ternyata ada positifnya juga, yakni jalur jalannya sudah lengang.  Selain itu, view jalur yang saya lewati juga  terlihat nyata kecantikannya.  Saya paling seneng melintas hutan saat masih tertutup kabut, dan sedikit cahaya matahari di pagi hari. Kombinasi  warna alam hijau-abu-abu  dan jingga itu enak banget dilihat. Lumayan lah, itung-itung sebagai pengganti panorama sunrise di Pananjakan yang sengaja kami lewatkan.

Kokohnya Semeru yang bisa kami nikmati dari kejauhan

Penutupan jalur jalan karena hajatan warga (kalau tidak keliru, di daerah Nongkojajar), sempat membuat kami bingung. Sempat bertanya kepada warga sekitar, hingga kemudian kami ketemu dengan Pak Handik, pria separuh baya yang kemudian saya tahu merupakan salah satu tour guide kawasan Bromo.

“Ini mau ke mana...?”  tanya pak Handik dengan nada agak galak. 

“Mau ke Bromo Pak. Mau ke Pos Wonokitri” jawab Yusgha yang berada di belakang stir

“ Iya pak..tadi ada jalur yang ditutup...makanya ini bingung juga, cuma ngikut maps” Tambah saya dari jok belakang.

“Mas, ini masnya keliru. Kalau lewat sini, nanti masuknya via Tosari. Dan Mobil pribadi memang terakhir ya di terminal Tosari. Sudah pesen jeep?”

“Belum pak...” Jawab pak Suami

“Sudah, ikuti saja motor saya, nanti saya antar ke terminal Jeep Tosari”

Setelahnya, bisa ditebak. Kami mengikuti motor pak Handik, sekitar 3 kilometer an menuju terminal jeep Tosari. 

08.00 pagi, Sampai juga di Terminal Jeep Tosari

“Mbak, Mas... ini njenengan sudah gelombang 2. Jeep gelombang 1 sudah habis. Oh, iya  harga sewa jeep di sini HET 750.000, untuk 4 spot: Pananjakan, Bukit Cinta, kawah Bromo, Bukit Telletubies.  Njenengan ngasih saya 250.000 ribu dulu  ke saya, nanti tak cariin jeep. Yang 500, nanti dibayar ke jeepnya langsung. Tiket masuk, bayar sendiri”

“Nggak bisa dinego pak harganya?”

“Ini sudah kesepakatan kelompok di sini mba. Harganya seragam”

Karena sudah pake kata kunci  “seragam”, ya sudah kami percaya. Saya berikan 3 lembar uang kertas, pecahan 100 dan 50 ribu ke pak Handik.  Sementara  pak Handik nyari jeep yang kosong , kami nyari sarapan. 

Untungnya di Terminal Jeep Tosari ini  ada warung nasi yang  buka. Nggak 24 Jam juga, tapi mulai pukul 6 pagi sampai malam. Menu-menu yang ditawarkan lumayan lengkap:  nasi pecel, soto, mie goreng, dan juga nasi goreng. 

“Kalau belum bawa topi...kami njual mbak...yang ada tulisan Bromo, buat kenang-kenangan” Kata Ibu pemilik warung ramah sembari mengantarkan sarapan dan teh hangat di meja tempat kami makan.

“Oh..iya Bu. Tapi ini sudah bawa topi kok. Jawab saya. Ya, bahkan saya nyiapin sarung tangan anak-anak juga di backpack. Jaga-jaga kalau mereka sambat kedinginan. 

Pagi itu, Bromo tidak begitu dingin.   Langit terlihat cerah dengan  dominasi warna biru yang cantik. 

Ternyata  cuma sebentar Pak Handik meninggalkan kami mencarikan jeep. 

“Mbak...jeepnya sudah dapat. Tadi ada tamu yang cancel..., jadi ini bisa dipake” 

“Oh, begitu. Terimakasih Pak”.

Agak terburu merampungkan sarapan,  segera kami bergegas  menuju jeep warna hijau terang yang baru saja masuk ke dalam terminal Jeep Tosari. Di dalam, seorang driver sudah stand by dan akan membawa kami berrally wisata menjelajah Bromo


You Might Also Like

5 comments

  1. bawa bocah ke bromo, seru sih sebenernya..
    tapi kasian juga kalo harus naik jeep dari dini hari..
    gak tega banguninnya.. hehe..

    ReplyDelete
  2. Jeepnya ada kapasitas maksimal berapa orang gitu nggak mbak?

    Wah, udah feeling saya pas baca bagian ketemu bapak-bapak itu. Eh, beneran kejadian. Wi bapak nawarin sesuatu di akhir-akhir:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. mending booking dulu, trus nego2 harga dulu sblm hari H klo soal jeep. Kapasitasnya, bisa 6 (termasuk driver).

      Delete
  3. Woww asyik ke Bromo. Semoga suatu hari nanti saya dan keluarga juga bisa ke sana, aamiin. Iya benar banget Mbak, bahwa lebih baik sewa travel sekalian sopir supaya kita bisa lebih santai yaa.

    Sewa jeepnya mantap ya harganya, tapi nggak apalah kan sudah diniatkan yaa .... :).

    ReplyDelete
  4. Wah seneng ya rasanya ka, bisa traveling terus nich

    ReplyDelete