Candi Sojiwan; Candi Budha yang Juga Mengajari Kita akan Toleransi Umat Beragama

  • Oktober 12, 2018
  • By Tri Sulistiyowati
  • 8 Comments


Bagi masyarakat awam, mungkin nama Candi Sojiwan masih terdengar asing. Maklum, di ranah percandian Jogja, candi ini lumayan baru. 

Pernah terkubur akibat letusan Gunung Merapi, puing-puing candi di temukan pertama kali oleh salah satu utusan Rafless, Colin MancKenzie di tahun 1813. Sekian lama berwujud batu berserakan, hingga kemudian Candi Sojiwan direkonstruksi di tahun 1995, kemudian dipugar tahun 2005, dan baru diresmikan tahun 2011.

Dari beberapa prasasti yang tertinggal, disebutkan bahwa Candi Sojiwan dibangun antara tahun 840 atau 842 Masehi oleh Raja Balitung, dan merupakan bentuk penghormatan kepada neneknya Nini Haji Rakyan Sanjiwana yang beragama Budha. Di sinilah nama candi Sojiwan berawal. 

Konon, tubuh candi dalam versi aslinya banyak berukir sulur, tapi dalam proses rekonstruksi karena banyak batu yang hilang, maka diganti batu polos. 

Bergaya arsitektur Jawa Tengah, Candi Sojiwan terdiri dari 3 bagian, yaitu kaki atau dasar candi, tubuh candi, dan atap candi

Di poin ini kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya bangsa ini sudah memiliki modal kuat dalam hal toleransi umat beragama. Akulturasi kebudayaan Hindu dan Budha, bisa dilihat dari bentuk bangunan yang tinggi menyerupai bangunan candi Prambanan, namun memiliki stupa yang mengingatkan saya pada keagungan Candi Borobudur di Magelang. 





Di dalam candi, terdapat 1 ruangan kosong yang dulunya diperkirakan terdapat arca Budha di dalamnya, dan difungsikan sebagai tempat pemujaan/peribadahan agama Budha


Secara posisi dan lokasi, letak candi ini tidak begitu jauh dari Candi Hindu terbesar Prambanan. Sekitar 2 kilometeran ke arah selatan, tepatnya di Desa Kebon Dalem Kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. 

Akses jalan untuk menuju candi sebenarnya mudah. Semua jalan sudah teraspal. Namun, karena berada di tengah-tengah pemukiman dan beberapa kali melewati pertigaan, perempatan dan belokan, saya menyarankan...manfaatkan aplikasi navigator di smartphone atau nanya penduduk saja.
*Maafkan saya bingungan arah soalnya😊😊

Untuk masuk ke area candi Sojiwan, pengunjung tidak diwajibkan membeli tiket. Hanya mengisi buku tamu di  pos penjagaan, dan memberikan "uang tiket" seikhlasnya. 

Salahnya adalah...kami datang terlalu siang, saat matahari lagi bersinar garang. Candi Sojiwan gersang ya? 


Areal Candi Sojiwan berukuran 8140 m2, sementara bangunan candi berukuran 401,3 meter persegi dengan tinggi 27 m

Sebenarnya, ada beberapa tanaman peneduh di seputaran candi,  tapi karena barengan dengan musim kemarau panjang...tetep berasa kering dan sedikit gersang. Untungnya sebelum masuk sudah ndopping tubuh dengan dawet gula jawa yang dijajakan di dekat parkiran. 

Memang, masuk ke candi ini bisa saja sepanjang hari, tapi menurut saya  dolan ke candi itu paling enak datang di saat pagi atau sore hari. Paling tidak, bisa berkompromi dengan teriknya matahari.

Note
Di samping Candi Sojiwan, terdapat satu buah taman milik desa, namun posisinya terpisah pagar. Ada tiket tersendiri yang mesti dibayar untuk menikmati taman yang saat ini kondisinya masih belum maksimal. Kalau tidak keliru, tiket @5000. Saya milih nggak masuk, karena tanaman di taman masih baru, fasilitas juga masih seadanya.

Candi yang terdekat dengan Sojiwan adalah Prambanan dan juga Candi Plaosan. Saat membeli tiket di Prambanan, ada yang tipenya terusan, jadi bisa sekalin ke Sojiwan ini .

Ngomongin fasilitas umum yang dimiliki Candi Sojiwan ini lumayan lengkap. Parkiran luas, sarana MCK di luar areal candi bersih, beberapa toko cinderata+oleh-oleh+warung makan sederhana juga bisa ditemuai di luar kompleks Candi Sojiwan

Butuh dolan tipis-tipis sembari mengingat sejarah nenek moyang, yuk ke Candi Sojiwan!

You Might Also Like

8 komentar

  1. Saya penasaran sama Candi Sojiwan, mau melipir ke sini belum jadi2. Katanya ada relief fabelnya, apakah itu masih ada atau sudah diganti batu polos, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha itu..aku liat reliefnya cuma dikit...dipojok2 itu .. apa itu ya yang cerita fabel?
      *Besok klo balik kesana..lebih perhatiin ke relief ah.

      Hapus
  2. Oo di klatennya ya. Belum pernah dengar nama candi ini deh aku.

    Tfs, lis.

    BalasHapus
  3. wuah gratis ya ke candinya, Alhamdulillah...
    eduwisata yang bagus buat anak2

    aku baru tau kalau ternyata beberapa candi ada yang dindingnya diganti dinding biasa, yang gak berelief, kalau terpaksa dindingnya hancur itu ya. Ya gitulah pokoknya kalimatku. hahaha

    BalasHapus
  4. Belum kesampaian juga nih ngajak anak-anak jalan-jalan ke candi. Prambanan dan Borobudur aja belum, eh ini ada candi "baru" lagi. Huhu... daftarnya makin panjang jadinya

    BalasHapus
  5. Aku baru tahu lho ada candi ini di dekat candi plaosan sama prambanan.. Besok bisa nih ajak anak-anak main ke sini... makasih infonya ya mbak..

    BalasHapus
  6. hemmm keren juga ya, aku cuman baru ke candi borobudur sama candi prambanan doang, hehehehehe, next time semoga kesampaian kesini

    BalasHapus
  7. Jadi jika main ke Candi Prambanan bisa sekalian ke Candi Sojiwan ya Mbak, bisa eksplor beberapa candi sekaligus.

    Salut sama yang telah merekonstruksi candi ini kembali, bisa menempelkan puing-puing kembali seperti aslinya :).

    BalasHapus