Melihat Kemegahan Candi Borobudur Dari Dekat




"Kaosnya Pak... Mumpung masih pagi... 100 ribu, dapat 4..."

"Mari...kaosnya...5 bolehlah..sama yang kecil nanti.... Bagus buat oleh-oleh. Daripada nanti beli di dalam, biasanya lebih mahal"

Berbeda dari matahari yang pagi itu malu-malu menampakkan diri, seorang pedagang kaos langsung "menyerbu" kami begitu mobil terparkir. Padahal baru saja turun. Pertama ia dekati pak suami..tapi suami saya nggak begitu mempedulikan. Nggak putus asa, lantas ia dekati saya sambil terus menawarkan kaos-kaosnya.

Ah, agresif juga bapak ini dalam menjajakan kaosnya. Jujur, saya nggak suka metode jualan yang ngejar-ngejar gini, tapi berusaha maklum. Bisa jadi, bagi mereka pemasaran menggunakan metode ini cukup efektif.

"Maaf..pak. Nanti saja, kami baru saja nyampe kok."   Penolakan saya berhasil. Bapak setengah baya dengan tumpukan kaos bertulis BOROBUDUR itupun menjauh, mencari pengunjung yang lain. 

Hmm...kalau lagi di tempat wisata, biasanya saya memang hunting kaos buat kenang-kenangan. Tapi karena lokasi dolannya cuma dekat rumah, memang nggak niatan beli. 

Belum ada jam 7 pagi. Parkiran Borobudur yang luas, masih terlihat lengang kendaraan, tapi mulai ramai oleh suara pedagang kaos dan souvenir yang mulai menjajakan dagangan mereka. Sebelum antrian pembelian tiket panjang-mengular, saya ke loket pembelian tiket masuk, dan nggak sampai 5 menit tiket sudah di tangan, 40 ribu untuk wistawan domestik dewasa, dan 20 ribu untuk anak-anak. 

Langsung masuk? Nggak. Peraturan untuk masuk ke candi Borobudur ini termasuk ketat. Tas saya, tas pak suami dan pengunjung yang lain diperiksa dulu oleh pak petugas. Nggak boleh bawa senjata tajam, nggak boleh bawa makanan. Kalau minuman, boleh. Tapi entah kenapa, peraturan yang mewajibkan memakai/melilitkan kain saat memasuki areal candi sekarang sudah tidak berlaku. Jadi, bisa bebas menggunakan baju apapun. Awalnya, pemakaian kain dimaksudkan untuk menghormati candi sebagai tempat ibadah agama Budha. Tapi entah kenapa, peraturan itu dicabut, dan saya lihat banyak juga para wisatawan asing yang menggunakan hotpants.

Setelah lolos pemeriksaan, barulah kami boleh masuk. Sayang, tadi belum sempat sarapan. Hiks..😥

Di dalam, tak lagi ada pedagang-pedagang yang agresif  menjajakan barang. Peraturan pihak pengelola candi, memang membagi area ini kedalam  beberapa zona, dan zona yang mendekati candi memang steril dari pedagang  apapun, sementara para pedagang memiliki area tersendiri tak jauh dari pintu keluar. Efek positifnya, tak ada penjual yang agresif menawarkan dagangan ataupun aktifitas pengunjung yang sibuk dengan bekal makanan,  dan kemudian membuang sampah  sembarangan. Bahkan pagi itu saya melihat area seputaran candi semakin cantik. Ratusan caping warna-warni yang digantung, menjadikan Borobudur terlihat semarak

Sebelum naik ke area candi...bolehlah foto-foto sini dulu


Sebagai candi Budha terbesar di dunia, popularitas Borobudur tentu tidak diragukan lagi. Berada di  Magelang Jawa Tengah atau  100 km barat daya Semarang, 86 km barat Surakarta, dan 40 km barat laut Yogyakarta menjadikan candi ini sering dijadikan tujuan wisata utama, entah itu wisatawan asing maupun wisatawan domestik. 

"Ibu..itu mereka ngobrol pakai bahasa Inggris kan?  Berarti orang Inggrisnya lagi mudik ya...?" Kata Alya yang sepertinya heran melihat banyak sekali turis mancanegara yang ia temui di tempat ini. Jelas lah saya tersenyum mendengar pertanyaan putri saya itu. 

Tapi salah saya juga sih, meski secara geografis Candi Borobudur dekat dengan rumah, malah baru sekali ini anak-anak saya ajak melihat Borobudur dari dekat. Biasanya cuma lewat, melihat dari luar, dan sudah...

Ada banyak gambar yang ditampilkan dalam relief Candi Borobudur. Melalui relief yang terpahat di dinding candi, Borobudur bagaikan kitab Jawa kuno yang merekam segala aspek kehidupan  manusia

"Kok batunya nggak runtuh ya Bu..padahal kan nggak ada penyangganya?" Komentar Raka saat melihat gerbang candi yang dihiasi kalamakara di atasnya. Jawabannya tentu sederhana, karena bangunan candi yang  juga merupakan monumen Budha terbesar ini  menggunakan struktur blok batu andesit yang saling mengunci. Mirip puzle yang saling mengait, hingga tercipta wujud dan bentuk yang jelas. 

Saya yakin, nggak hanya anak kecil sebenarnya yang kagum dengan bangunan candi ini. Saya yang notabene sudah berumur pun sering nggak habis pikir...kok bisa ya, bangunan sebesar dan serumit ini dibangun? Dengan segala kondisi dan (mungkin) juga keterbatasan  peralatan waktu itu, sangat logis kalau pembuatan candi Borobudur menghabiskan waktu sampai setengah abad. 

Borobudur
Ada beberapa tipe relief yang dimiliki Candi Borobudur, diantaranya adalah relief Jatakamala-Awadana; menceritakan tentang perbuatan sang Budha Gautama dan para Bodhhisatwa semasa hidupnya. Relief ini dipahatkan pada dinding lorong  kedua sampai keempat


Di Candi Borobudur, stupa terbesar terletak di tengah, dikelilingi 3 barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna



Ada ratusan arca Budha, baik dengan kondisi dengan kepala atau kadang tanpa kepala.  Sekilas, arca Budha terlihat sama, namun ternyata dapat diidentifikasi berdasarkan sikap tangan atau mudra yang penempatannya berdasarkan penjuru mata angin



Patung-Singa-Borobudur
Candi Borobudur dilengkapi 32 arca singa sebagai penjaga pintu masuk di halaman maupun di pintu naik tangga pada keempat penjuru mata angin. Menurut kepercayaan Budha, singa merupakan kendaraan sang Budha ke Nirwana. Selain itu, singa juga melambangkan kekuatan, keberanian, kemenangan serta kemampuan untuk melindungi pemeluk agama Budha

Sejarah mencatat bangunan ini dibangun sekitar abad ke 8 atau pada tahun 750 Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra, dan baru ditemukan pada tahun 1814 dimasa kependudukan Rafless. Kalau diitungnya dari sekarang, sudah sangat  tua sekali kan??? Jadi masuk akal juga ketika saat ini penjagaan terhadap situs candi ini sedemikian ketat; jangan sampai ada yang rusak.


Setiap tingkatan yang ada di Candi Borobudur melambangkan tingkatan kehidupan manusia. Arupadhatu digambarkan dengan patung Budha dalam stupa. Simbol ini merupakan perlambangan sifat manusia yang sudah terlepas dari sifat keduniawian



Dilarang memanjat. Memanjat, selain membahayakan pengunjung, bisa juga membahayakan bagi kelestarian batuan bersejarah ini. Seperti di ketahui, untuk menjaga kelestarian candi, Borobudur sudah mengalami 2 kali pemugaran. Tahap 1, tahun 1907-1911, dibawah kepemimpinan Van Erp. Pemugaran kedua, pada tahun 1973-1983 yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia bekerjasama dengan UNESCO

Butuh waktu sekitar 2 jam buat saya, suami dan anak-anak untuk mengitari 6 teras candi yang berbentuk bujur sangkar, dengan teras yang melingkar dibagian atas. Lumayan menguras tenaga, karena rata-rata tangga yang menghubungkan teras yang satu dengan teras yang lain berbentuk curam. 

Tapi membayangkan saat proses pembangunan candi ini...pasti jauuuuuh lebih menguras tenaga. Bagaimana bisa lebih dari 2000 panel relief yang berisikan cerita terpahat dengan rapi dan indah di permukaan batuan? Belum lagi lebih dari 500 arca Budha yang menjadikan Borobudur sebagai candi dengan koleksi relief Budha yang terlengkap dan terbanyak di dunia.

Benar-benar mahakarya nenek moyang yang menakjubkan. Sekedar tips, buat teman-teman yang juga ingin melihat Candi Borobudur secara dekat:

  • Gunakan alas kaki yang nyaman
  • Kenakan pakaian yang menyerap keringat
  • Siap sedia payung atau topi, bisa jadi matahari bersinar terik atau hujan
  • Sebaiknya, isi perut terlebih dulu, soalnya areal candi luas banget. Nggak boleh bawa makanan, sementara warung makanan terdekat sudah di area pasar oleh-oleh (jalur menuju pintu keluar)
Sementara, buat yang tidak begitu menyukai area candi, bisa juga menikmati kawasan desa sekitar candi Borobudur dengan menggunakan mobil-mobil antik yang disewakan dengan tarif 250 ribu/trip, maupun menggunakan dokar, dengan biaya 100ribu/trip. Nggak hanya itu, karena di seputaran area candi, banyak juga wahana-wahana yang bisa dicoba, misalnya museum Borobudur, wahana Petualangan Raka Samudra Raksa, bahkan wahana tunggang gajahpun ada.

You Might Also Like

6 komentar

  1. Ga pernah habis kagum kalo ke borobudur :). Seandainya yaaa, aku bisa kembali ke masa lampau, saat borobudur dibangun. Penasaran cara mereka bangun gimana kok bisa sebagus dan semegah ini :).

    Tapiii aku sebel memang ama penjual2nya. Ya ampun trakhir kita datang itu diserbu bener2, sampe tas ditarik. Akhirnya aku marah, lgs masuk mobil. Eh pak suami kemakan jebakan. Lgs deh dia beli 1 drpd dikejar2. Para penjualnya seharusnya lbh tertib dan sopan yaaa supaya yg dtg jg ga kapok ksana

    BalasHapus

  2. He eh mba..penjualnya itu agresif banget. Itu aja udah mendingan..dulu jaman kuliah..aku ke borobudur, blm ada zona bebas penjual..jadi selama liat candi malah berasa diuber2

    Klo sekarang kan banyak di tempat parkir sama deket2 pintu keluar itu.

    Ya, pinter2nya menghindarlah😁😁

    Soal kemegahan Borobudur..aku juga terkagum2 mba...kok bisa ya, batunya gimana ngangkutinya..trus mahatnya berapa pemahat...reliefnya kan bisa bentuk cerita kayak komik gitu..? Trus katanya..klo.candi itu rekatin batunya pake telur kan...seberapa banyak telur yaa?

    Ahh..orang jaman dulupun hebat ya ternyata..

    BalasHapus
  3. Lupa kapan terakhir ke Borobudur, kayaknya jaman SD dulu, dan jalanan ke arah Candi Borobudur waktu itu masih 'bersih' dari instalasi-instalasi seni seperti caping dan gambar onta-onta'an itu. Pas kesana pun nggak sanggup kalau kudu muterin semua sisi-sudut, tujuan utamanya sih langsung di puncak candi. Jadi berasa banget ngos-ngosannya :D

    BalasHapus
  4. Candi Borobudur memang keren banget....

    BalasHapus
  5. Terakhir kesana sama malam museum jadi mobil bisa masuk sampai dekat candi krn mobil dinas pariwisata. Kami nyikat lumut Borobudur. Asik banget. Kalau jalan dari pintu pengunjung aku nyerah deh, nggak kuat panas. Dulu naik kereta odong2 wisata itu.

    BalasHapus
  6. candi bororbudur tempat bersejarah yang pengen adik kunjungi. seru kayaknya disana.
    sama luasnya kayak prambanan mbak

    BalasHapus