Yey! Kini Sleman Punya Pasar Ndelik dan Embung Mesem Kampung Flory


Akhir April 2018 lalu, satu lagi destinasi wisata alam-kuliner diresmikan Gubernur Jogja. Namanya Pasar Ndelik Kampung Flory. Ndelik, dalam bahasa Jawa artinya tersembunyi, alias susah dicari. Lokasinya, memang  agak masuk ke perkampungan, di wilayah kampung Jugang, Pangukan, Sleman. Tapi tenang saja, jaman sekarang..apa sih yang susah? Tinggal manfaatkan aplikasi peta di ponsel, atau bertanya pada penduduk sekitar, pasti minim nyasar. 

Selama bulan Ramadhan Kemarin, Pasar Ndelik hanya melayani pengunjung di sore hari. Sedangkan mulai Lebaran tahun ini, lokasi mulai dibuka mulai pukul 08.00 pagi hingga 7 malam.

Ada dua alternatif jalan untuk bisa mencapai Pasar Ndelik. Kalau mau dapat tempat parkir nyaman dan aman, parkir saja di kendaraan di rumah makan Iwak Kalen Kampung Flory atau Bali Ndeso Kampung Flory.

Tentang Iwak Kalen Kampung Flory, bisa baca di Makan plus Belanja Tanaman, Keduanya Bisa di Kampung Flory

Iwak Kalen Kampung Flory dan Bali Ndeso Kampung Flory, merupakan 2 tempat makan serta outbond area yang letaknya sebelahan, dan berada se areal dengan lokasi Pasar Ndelik.  Setelah nyampe parkiran, tinggal nyari anak panah/nanya ke penjaga parkir/petugas resto yang pasti  dengan senang hati akan menunjukkan jalan setapak yang akan mengantarkan kita ke Pasar Ndelik Kampung Flory.

Alternatif kedua, adalah melalui sisi selatan jalan alternatif dari arah perempatan Denggung yang akan menuju GOR Pangukan, Sleman.  Setelah sampai wilayah Desa Drono, akan terlihat jembatan bambu ditengah areal persawahan sepanjang 200-an meter.

Sayangnya, kantong parkir di pilihan kedua ini belum representatif, maksudnya kadang ada yang jaga, kadang nggak. Bahkan tempo hari pas saya kesana, nggak ada petugas yang njagain parkir maupun pintu masuk jembatan.

Jembatan Bambu Kampung Flory
Ini namanya Sesek Mesem. Sesek artinya jembatan bambu. Jembatan ini menghubungkan Pasar Ndelik dengan jalan raya (jl alternatif arah GOR Pangukan)


Menariknya Pasar Ndelik

Namanya pasar, pasti nggak jauh-jauh dari acara belanja kulineran. Tapi bedanya, kulineran di Pasar Ndelik ini, kita bisa sembari merasakan kehidupan ala masyarakat pedesaan, nyicip menu-menu tradisional, tapi dikemasnya dengan konsep kekinian. 

Setelah melewati jalan setapak, kita harus melewati jembatan gantung, sekalian bayar tiket masuk. Nggak mahal, 5 ribu/orang, anak-anak seumuran Alya kemarin masih dapat gratisan. Oh..iya, di pos pembelian tiket ini, boleh sekalian pinjem caping biar ga panas.



Beli tiket untuk masuk areal, @5000 rupiah


"Jembatane menul-menul..marai pusing...", Komentar Alya, putri saya. Itu juga karena jembatan kayu yang digantung dengan tali yang kami lewati memang sedikit bergoyang ketika diinjak. 

Peraturan di atas jembatan ini antara lain, nggak boleh > 10 orang, nggak boleh berhenti (tapi tetep...pada berhenti buat foto2)


Dari segi kekuatan, secara visual jembatan terlihat kokoh. Masih  baru juga, tapi demi keamanan dan keselamatan, ada peraturan-peraturan yang mesti ditaati pengunjung,  misalnya tidak saat menyebrang melebihi 10 orang. Di bawah jembatan gantung ini, mengalir Sungai Bedog dengan debit air yang cukup bersahabat. Di sediakan jalan setapak seandainya mau turun ke sungai untuk bermain air.

Sungai-Bedog-Kampung-Flory
Kalau anak-anak desa jaman dulu, main di sungai adalah 'makanan' sehari-hari. Berbeda banget dengan anak sekarang, yang saat di beri kesempatan untuk turun ke sungai lantas girang luar biasa


Ancaman yang potensial terjadi saat anak diberi kesempatan main di air sungai adalah, susah untuk mengajaknya beranjak ke tempat lain

Jalan setapak ini mengantar pengunjung ke areal kebun buah (tapi banyak yang belum /lagi nggak berbuah)

Lepas dari jembatan gantung, yang kami lewati berikutnya adalah agro buah. "Ini mau dijadikan kebun buah yang bisa petik-petik sendiri itu ya mas..?" Tanya saya ke salah satu pegawai yang lagi sibuk menyirami tanaman. 

"Iya..nantinya seperti itu, cuma ini belum..karena belum pada berbuah" 
Saya lihat memang baru pohon belimbing yang berbuah ranum. Selain itu, ada pohon jambu air, jambu biji, kelengkeng, sawo, dan jeruk yang tinggal menunggu masa berbuah.

Tak jauh dari agro buah, sudah tampak bangunan Joglo besar di tengah, dengan beberapa gasebo dan dangau di sekitarnya. Gasebo sebagai tempat makan, dan dangau-dangau  yang nantinya akan digunakan sebagai tempat jualan aneka makanan dan jajan pasar. Saat ini, hanya joglo tengahlah yang baru bisa difungsikan sebagai tempat wisata kulineran. Sempit? Sama sekali nggak! Karena di bulan Ramadhan, tempat ini penuh-padat bookingan acara buka puasa bersama, dengam kapasitas 300 pengunjung, dengan menu lumayan beragam, dan harga yang ramah pula.


Mirip pasar tradisional kan ya...?

Bisa order makanan dan minuman di sini..

Menu-makanan-pasar- ndelik- sleman
Makannya bisa di gasebo di deket Embung Mesem, atau di dalam Joglo beralaskan selembar tikar. Kalau kekenyangan, langsung bisa tiduran😁😁

Daftar harga dan menunya. Secara harga, termasuk murah, dari segi rasa rate 7,5 skala 10 

Selepas makan, anak-anak mbingungi mau nyobain naik becak air yang ada di Embung Mesem. Bagi saya, Embung Mesem ini bener-bener embung plus-plus!

Kok plus-plus? Iya, karena embung atau kolam buatan ini nggak cuma sekedar  kolam raksasa tempat untuk memelihara ikan, tetapi juga seru-seruan naik bebek air ataupun kapal dayung. Tarif bebek air, adalah 10 ribu sementara kapal dayungnya, 20 ribu per 15 menit. Lumayan lah kalau mau olahraga kaki bareng anak-anak/teman. Paling nyaman kalau masih pagi atau sore sekalian, soalnya kalau tengah hari masih panas. Maklum, tanaman peneduhnya masih imut.

Sayang anak...sayang anak!😁😁 Daripada ngayuh..saya milih jadi sie dokumentasi saja.


Suka Foto? Jangan Khawatir, karena ada spot selfie juga di Pasar Ndelik


Spot Foto Pasar Ndelik
Tinggal milih, mau gaya foto di mana dan bebas mengekspresikan gaya


Pas untuk pecinta bunga



Tumben-tumbenan saya selfie. Habis tempatnya cakep sih...

Gara-gara medsos, kayaknya banyak orang yang jadi hobi berfoto-foto. Biar di kamera terlihat cantik, tempat-tempat fotonya dibuat penuh bunga-bunga. Atau yang suka gaya-gaya latar belakang klasik..boleh lah, foto di tengah sawah kayak gini. Saat postingan ini saya tulis, semua spot  foto ini masih dinikmati dengan gratis, nggak ngerti kalau beberapa bulan ke depan. Soalnya, statusnya sekarang, spot selfienya juga masih dalam tahap penyempurnaan.

Ah, paling asyik sih nyobain sendiri! Mau kan? Saya kasih map nya kampung Flory aja ya..


You Might Also Like

11 komentar

  1. Suasananya adem dan asri ya ..., masih kerasa suasana pedesaannya.
    Ada aliran sungainya juga ... bisa main basah-basahan keceh 😁

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah akhirnya Mbak Tri selfie juga. :) dari awal baca saya sempat nanya2 dlm hati " foto Mbak Tri " mana yach... ? :)

    BalasHapus
  3. MInal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin ya mbak Sulis, hehe terlambat banget yaa..

    Saya langsung gagal fokus sama jembatan bambunya mbak, unik dan bagus untuk setting foto yaa..

    Ini nggak cuma pasar tapi lengkap sekalian wisata keluarga ya mbak, anak-anak bermain sementara orang tua belanja sekalian selfie-selfie hihi..

    BalasHapus
  4. Lagi2 ada destinasi baru ya... pengen banget dolan nang pasar ngumpet ki aku...

    BalasHapus
  5. seperti di kampung saya mbak, cuma potensi wisatanya memang belum dimaksimalkan. Masih free gitu aja, yahh kalau dibuat begini plus diberi sentuhan agar lebih cantik dan menarik pasti akan meningkatkan prekonomian rakyat sekitar

    BalasHapus
  6. Aku tertarik dengan agro buahnyaa.. Kalo lagi musim dan berbuah seru banget pasti metik buah di sana. Tp kalo anak2ku dijamin mereka milih yg wahana di embung2nya :p. Semua yg berkaitan ama air pasti mereka doyan deh

    BalasHapus
  7. Mb sulis putra putrine cakep2 ey, alya manis nek taksawang2 mirip dirimu e mbk, mase raka ganteng ya

    Hmmm jogja skrg mayan bejibun juga ya wisatanya, tauk gitu kmaren aku mlipir yujo huhuhu
    Nunggu ntar dangau2nya penuh jualan jajan dulu aaah

    BalasHapus
  8. wah seru juga ay, aad sungainya ayng berbatu itu ya

    BalasHapus
  9. Padahal ini nggak jauh dari rumah lo. Mau kesana ah. Itu buka tiap hari?

    BalasHapus