Gua Jatijajar, Menyusur Gua Mengingat Legenda

  • Desember 15, 2017
  • By Tri Sulistiyowati
  • 2 Comments



Hai Sobat DolaNjajan..😀

Pernah dengar tentang Gua Jatijajar? Syukurlah klo sudah. Klo pun belum..ya nggak masalah sih..yang pasti gua ini terkenal banget, terutama di wilayah Kebumen, Jawa Tengah dan sekitarnya. Gua Jatijajar. Sebuah sumber menyatakan, asal nama tersebut  berasal dari posisi dua buah pohon jati yang saling sejajar di samping pintu masuk, saat gua ditemukan pertama kali.

Di negeri kita ini,  hampir semua tempat memiliki ceritanya masing-masing. Sebut saja Prambanan dengan cerita RoroJonggrangnya, Tangkuban Perahu dengan legenda Sangkuriang, atau kisah naga Baru Klinthing yang tak lepas dari cerita asal mula terbentuknya Rawa Pening.

Demikian pula dengan Jatijajar, salah satu gua alami yang beberapa waktu yang lalu saya kunjungi. Secara geografis, gua  ini berada di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Konon, dalam gua yang ditemukan oleh seorang petani di tahun 1802 ini, melekat pula sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yakni kisah Lutung Kasarung.

Sejarah dan perjalanan cinta Kamandaka dalam Diorama

Masyarakat pun percaya, pada masa Kerajaan Padjajaran --dengan Kebumen sebagai salah satu wilayahnya, gua ini merupakan tempat yang digunakan Raden Kamandaka, sang putra mahkota untuk bertapa. Dalam pertapaannya, konon disebutkan bahwa sang pangeran akan dipertemukan dengan jodohnya, setelah ia berpakaian lutung, hewan sejenis kera.

Cerita inilah yang kemudian diabadikan dalam 8 diorama dengan 32 patung putih seukuran tubuh manusia, yang bisa ditemui di sepanjang perut Gua Jatijajar.





Pesona Goa Jatijajar


Kesan alami, begitu kentara saat memasuki kawasan ini. Begitu lepas dari loket pembelian tiket, yang bisa kita temukan adalah beberapa kolam pemandian atau kolam arus yang siang itu ramai-rendah dengan suara anak-anak. Tak jauh dari itu, ada sebuah patung dinosaurus dengan mulut  terbuka yang dengan deras  memuntahkan air. Dinosaurus merupakan simbol dari "usia" Gua Jatijajar yang sudah sangat tua. Sementara air, disamping untuk kegiatan bermain  di lokasi obyek wisata, air dari goa jatijajar ini juga digunakan sebagai sumber irigasi sawah-sawah penduduk yang beraada di sekiar gua.


Gua Jatijajar, mulai dibangun dan kemudian di kembangkan sebagai lokasi tujuan wisata sejak tahun1975. Untuk bisa menikmati kawasan gua dan mengeksplore beragam pesonanya, harga tiket yang harus dibayarkan pengunjung masih sangat terjangkau, Rp.7500 untuk dewasa, dan Rp. 4500 untuk anak-anak

Dengan tinggi rata-rata 12 meter, dan lebar 15 meter, maka gua ini termasuk gua yang bisa dengan mudah disusuri pengunjung, terlebih dengan jalur yang sudah ditrap beton plus dilengkapi lampu-lampu penerang. Tak perlu ketrampilan  atau peralatan khusus untuk menyusuri tubuh gua sepanjang 250 meter ini. Siapapun bisa. Maka tidak heran, di akhir pekan  atau saat liburan datang, tempat ini penuh dengan wisatawan, tak peduli usia; anak-anak, muda, bahkan golongan tua sekalipun. Efeknya? Terlalu lama mengambil foto atau bahkan keasyikan selfie, bisa jadi dipelototin pengunjung dibelakangnya :-D

Endapan tetesan air hujan yang bereaksi dengan batu kapur yang kemudian membentuk stalagmit dan stalaktit menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat wisata gua. Ditambah lagi dengan cerita legenda yang kemudian diabadikan dalam diorama,  tentu itu memberikan kesan tersendiri bagi pengunjung. Ibarat dalam buku komik, saya menduga diorama-diorama yang ada, sengaja dibuat "bercerita".  Sayangnya, tak ada pemandu atau pengelola yang membantu pengunjung, untuk memahami kisah atau  runtutan cerita  dalam diorama secara lebih detail.

Selain keindahan batuan bumi yang terpahat alami dalam perut gua, saya juga bisa melihat secara langsung dua mata air yang mengucur deras, membentuk sungai di dalam gua. Ada sendang mawar dan sendang kantil, dua mata air yang telah diberi lampu penerangan, dan relatif mudah dijangkau pengunjung sembari menyusuri gua. Sementara, dua mata air yang lain, yakni Puser Bumi dan Jombor dibiarkan alami, dengan kondisi jalan yang licin. Air dari sendang kantil dan sendang mawar inilah yang sepanjang tahun bertemu dan keluar melalui mulut patung dinosaurus yang berada tak jauh dari mulut gua.



Kuliner khas dan Pasar Seni Jatijajar


Kuliner khas, kadang kala menjadi alasan khusus seseorang untuk mendatangi suatu tempat. Di gua Jatijar ini, saya dan pengunjung lainnya bisa sangat dengan mudah menemukan makanan khas Kebumen. Sebagai pengisi perut setelah menyusuri gua, ada menu khas berupa pecel yang dilengkapi bunga kecombrang yang hampir disediakan semua warung makan. Harganyapun sangat bersahabat, sekitar 7000 rupiah per porsi. Lebih mantap lagi disantap bersama mendoan panas yang disajikan langsung setelah digoreng. Mendoan super besar, dengan kisaran harga 4000 rupiah perpotong. Mantap!!

Butuh buah tangan atau oleh-oleh untuk rekan sejawat atau keluarga di rumah? Tak perlu khawatir, karena menjelang pintu keluar, ada pasar seni yang menjajakan aneka kerajinan, kaos, atau makanan kering yang siap di bawa pulang. Mau getuk goreng, sale pisang, lanting, atau aneka souvenir, lengkap! Jadi, rugi rasanya, kalau suatu saat menjejakkan kaki di tanah Kebumen, dan tak singgah di tempat ini.



You Might Also Like

2 komentar

  1. lagi paham kalo dulu kerajaan pajajaran sampai kebumen juga.

    dioramanya cantik ya putih gitu.

    BalasHapus
  2. Ya ampun, aku berasa kembali ke masa SD ku Mbak Sulis. Senengnya aku baca tulisan ini . Kalo gak salah aku sempat 2 kali kesana, ikut piknik kantor ortu. Dari Goa Jatijajar terus ke Pantai Ayah . Sepaket dah ... Hahaha. Patung-patung itu juga udah ada deh kayaknya pas aku kesana. Cuman baru tau ada legenda Kamandaka di Goa Jatijajar setelah baca tulisan Mbak Sulis ini. Padahal nama Kamandaka gak asing di telingaku loh, tapi gak tau apa itu

    BalasHapus