Suka menikmati kopi? Sejarah mencatat, budaya minum kopi di Indonesia sudah dimulai sejak zaman kolonial Belanda. Tradisi ini berawal dari biji kopi arabika yang dibawa pemerintah Hindia Belanda dari India ke Indonesia pada tahun 1696.
Keberhasilan penanaman bibit kopi di daerah Priangan, Jawa Barat menjadi awal bagi munculnya perkebunan-perkebunan kopi di daerah yang lain seperti Sumatera, Sulawesi, dan juga Bali.
Awalnya, kopi hanya dikonsumsi kalangan bangsawan dan pejabat kolonial. Lama-lama, kebiasaan minum kopi menjadi milik semua kalangan, terlebih di daerah penghasil kopi. Dari sinilah muncul tradisi ngopi di berbagai daerah, seperti ngopi di warung kopi Aceh, kopi tubruk di Bali, termasuk kemudian lahirnya apa yang kemudian kita kenal kopitiam.
Berasal dari dua kata gabungan dalam dialek Hokkien (Tionghoa) “Kopi” dan “Tiam”, kopitiam berarti “kedai kopi”. Istilah kopitiam muncul dari komunitas peranakan Tionghoa di kawasan Asia Tenggara, terutama Malaysia, Singapura, termasuk Indonesia.
Selain memperkaya keragaman budaya minum kopi di Nusantara, kopitiam bisa dianggap sebagai persilangan budaya antara Tionghoa dan Indonesia. Dirintis oleh para imigran Tionghoa yang datang ke wilayah kita, menggunakan kopi yang merupakan hasil bumi Indonesia, dan disajikan dengan gaya budaya Tionghoa.
Selain menikmati kopi, kopitiam menjadi semacam tempat berkumpul, berbagi kabar, dan juga berdagang berbagai kalangan masyarakat.
Perbedaan Kopitiam dengan Kedai Kopi Modern
Secara fungsional, kopitiam maupun kedai kopi modern sama-sama sebagai tempat untuk menikmati kopi dan aneka makanan ringan. Meskipun begitu, ada ciri khas yang membedakan keduanya.
Kopitiam umumnya bergaya klasik khas peranakan Tionghoa-Melayu, dan banyak ditemukan di Singapura, Malaysia, dan beberapa kota di Indonesia. Sementara kedai kopi modern atau coffee shop lebih terlihat modern bergaya lebih kontemporer dan kebarat-baratan.
Kopitiam lebih sebagai tempat untuk ngobrol santai sembari menikmati seduhan kopi, sementara kedai kopi modern identik untuk nongkrong, mengerjakan tugas sambil wifi-an, atau bahkan sambil bekerja dengan laptop.
Menu utama yang disajikan kedua nya pun sebenarnya tidak jauh beda, sama-sama kopi. Serupa, tapi tak sama.
Kopitiam identik dengan sajian kopi tradisional, teh tarik, plus makanan lokal seperti nasi lemak, laksa, roti bakar, telur setengah matang, dan juga mie goreng. Sementara kedai kopi modern menyajikan kopi dengan teknik barista dilengkapi menu pendamping ala Barat seperti sandwich, croissant, dan juga pastry .
Selain pemilik, pilihan menu, tampilan kopitiam dan kedai kopi modern pun juga terlihat beda. Kalau kopitiam identik dengan kesederhanaan namun dalam suasana yang santai, tak begitu dengan penampakan kedai kopi modern yang terlihat minimalis, estetik, dan yang pasti instagrammable.
Segmentasi pasarnya pun, ternyata juga beda. Kalau kopitiam identik sebagai tempat untuk menikmati kopi yang “ramah” untuk semua lapisan masyarakat, maka kedai kopi modern lebih ke simbol gaya hidup dan identik dengan masyarakat perkotaan/kaum urban.
Seiring berjalannya waktu, saat ini trend kopitiam modern mulai bermunculan, salah satunya Kopitiam Amah. Kopitiam klasik, dihadirkan kembali dengan sentuhan baru seperti interior yang lebih bersih dan tertata, branding menarik, serta pelayanan yang lebih profesional. Yang pasti kehadiran kopitiam modern bisa menjadi semacam “jembatan” untuk mengakomodasi selera lintas generasi. Tak sebatas tempat untuk menikmati kopi, kopitiam modern juga merupakan simbol asimilasi budaya; Indonesia-Tionghoa, dan juga budaya klasik & modern.
Sebagai generasi milenial, kalau dihadapkan pada pilihan kopitiam (klasik) atau kedai kopi modern, saya pasti akan memilih jalur tengah, yakni kopitiam modern. Kalau teman-teman, bagaimana?



Post a Comment
Post a Comment