Java Ballon Attraction 2023, Cappadocia ala Indonesia

1 comment

 

"It's my Dream Mas. Not Her!

Ingat kan cuilan dialog di atas? Cappadocia, balon udara, dan serial Layangan Putus sepertinya memang sudah menjadi kesatuan. Tapi kalau mau melihat balon udaranya harus ke Cappadocia, sepertinya nggak semua orang bisa. Jauh, berat di ongkos juga😊 Makanya, kita dolan ke Wonosobo dulu saja, yang masih sama-sama di Indonesia.  Dengan tradisi balon udaranya, dunia pariwisata  Wonosobo bisa cantik dan makin terkenal juga. Anggap saja Cappadocia versi kearifan lokal. 😍

Kebetulan, pas lagi pengen dolan ke Wonosobo, pas ada event keren; Java Balloon Attraction2023.

Ya udah, sekalian jalan. Acaranya sendiri berlangsung hari Minggu, 26 Agustus 2023 mulai pukul O6.00 - 09.00 pagi pada sebuah lapangan besar di  kawasan Taman Pemandian Kalianget. Rugi rasanya kalau acara semenarik ini terlewatkan begitu saja.

Tentang Tradisi Menerbangkan Balon di Wonosobo

Java Balloon attraction

Beberapa literatur menyebutkan, bahwa menerbangkan balon adalah budaya turun-temurun yang sudah ada sejak jaman dulu. Kebiasaan ini bahkan tidak hanya di wilayah Wonosobo saja, tetapi juga beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Magelang dan Pekalongan.

Tradisi ini biasanya dilakukan setelah hari Raya Idul Fitri ataupun Idul Adha  sebagai ungkapan kegembiraan masyarakat atau untuk merayakan momen kemenangan.

Dulunya balon udara tanpa awak ini diterbangkan bebas, mau setinggi apa ia mampu terbang dan bersamaan dengan kompor dan minyaknya. Wuih, ngeri ya. Karena dianggap membahayakan, saat ini ada regulasi yang mengatur perihal penerbangan balon udara ini. 

Tidak lantas menghilangkan tradisi,  pemerintah mewadahi kreatifitas masyarakat melalui berbagai acara seperti misalnya festival balon udara yang formatnya dilombakan. Agar tidak membahayakan penerbangan pesawat, balon dilengkapi dengan tali sehingga bisa dikendalikan ketinggiannya. Demikian juga dengan api sebagai sumber energi yang ditinggal di bawah.


Java Balloon Attraction 2023, Menjaga Tradisi Tanpa Melalaikan Faktor Safety

Cuaca mendung, rupanya tidak menyurutkan antusiasme masyarakat. Belum genap pukul 06.00 pagi, parkiran terlihat nyaris penuh dengan berbagai macam jenis kendaraan. Benar-benar seperti pesta rakyat. 

Banyak sekali warga yang datang ke kawasan wisata Kalianget pagi itu. Ratusan, atau bisa jadi ribuan pengunjung dan semua golongan usia saya rasa, mulai dari anak-anak,  tua dan muda. Harga tiket yang dibanderol panitia juga sangat merakyat, 2000 rupiah saja per pengunjung.

Kami yang belum pernah melihat tradisi ini dari dekat, tentu tak kalah antusias. Alya dan Raka juga terlihat bersemangat. Bagus lah, paling tidak dua anak ini bisa lepas dari gadget untuk beberapa saat.

Bagian pinggir areal lapangan yang luas, diisi banyak deretan tenda penjual aneka makanan dan minuman. Ada soto, bakso bakar, teh, kopi, dan beberapa jenis makanan/minuman lain. Pilihan saya jatuh kepada  sate lontong Madura. Lima belas ribu rupiah perporsi dan cukup mengenyangkan untuk mengisi perut di pagi hari.

Satu demi satu peserta yang akan menaikkan balon berdatangan. Oh, tentu saja bukan perseorangan, melainkan berkelompok. Rata-rata anak-anak usia muda dengan mengusung nama Desa/wilayah tertentu.

Merekapun dengan sigap segera menempati kapling-kapling yang sudah disiapkan panitia, dan mulai "bekerja". Bahan bakar balon  disiapkan. Perapian pun segera dinyalakan. Ada yang menggunakan kayu bakar, ada pula yang menggunakan tempurung kelapa. Meskipun terlihat mudah, tapi upaya untuk membuat balon terbang, ternyata membutuhkan kerjasama tim yang solid. 

Mengisi udara balon udara
Kesibukan mempersiapkan balon udara sebelum diterbangkan


Sekitar pukul 08.00, setelah semua tim siap menerbangkan balon, gamelan pun ditabuh. Balon mengudara pelan, dengan iringan lenggok penari yang mengiringi gerakan balon membentuk 4 formasi yang menjadi ikon pariwisata Wonosobo yaitu Lembah Dieng, Gunung Sindoro, Telaga Menjer, dan Waduk Wadas Lintang.

Dua puluh lima balon mengudara, namun tetap dalam kendali. Tali berukuran cukup besar terikat di bagian bawah balon guna mengendalikan ketinggian dan arah terbangnya balon udara. Api yang digunakan untuk mengasapi bagian dalam balon juga tetap diposisikan di bawah. Saat balon terlihat membutuhkan tambahan udara panas, balon ditarik ke bawah dan diisi kembali. Begitu berulang-ulang. 

Balon udara Wonosobo

Corak balon yang beraneka warna, selain menarik, keragaman motif ini juga menggambarkan keragaman Indonesia. Jujur, bangga sebagai  warga +62. Tentu kalau caranya seperti ini, tak ada lagi alasan (tradisi) balon udara membahayakan keselamatan penerbangan.


Jadi gimana, masih harus Cappadocia, atau cukup versi Indonesianya saja? 😊

Related Posts

1 comment

  1. Mungkin Indonesia agak susah utk nerbangin balon udara karena rute udaranya banyak terpakai utk pesawat sih yaaa . Beda dengan Vang Vieng di Laos dan Cappadocia yg rute dilewatin ga ada rute pesawat, JD aman.

    Aku sendiri nyobain balon udara, ikutan terbang pas di Vang Vieng, cukup lah. Ga pengen lagi. Mahal soalnya 🤣🤣🤣

    Ini juga bagus Mbaa 👍👍. Walopun ga bisa naik, tapi toh sebenernya balon udara itu lebih bagus difoto saat terbang begitu, bukan saat kita naik. Kalo naik malah ga kliatan foto utuhnya kan 😄

    ReplyDelete

Post a Comment